Kurangi Ketergantungan Impor BBM, Bahlil Siapkan Mandatori Etanol Mulai 2028
SinPo.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan, Indonesia secara bertahan akan mengurangi ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin hingga beberapa tahun ke depan. Karenanya, pemerintah menargetkan kebijakan pencampuran etanol sebesar 20 persen pada bensin dapat mulai diterapkan di 2028.
"Kalau kita mandatori 20 persen, berarti kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter (KL)," kata Bahlil pada acara Business Forum Himpunan Alumni IPB University, dikutip Senin, 4 Mei 2026.
Menurut Bahlil, capaian sektor BBM ini menyusul keberhasilan yang paling dirasakan masyarakat yaitu penghentian impor solar pada 2026, yang menjadi tonggak baru. Karena untuk pertama kalinya hal ini tercapai dalam sejarah.
Keberhasilan ini ditopang oleh kebijakan mandatori biodiesel yang diterapkan secara bertahap selama hampir satu dekade, dengan pencampuran solar dan minyak sawit yang kini mencapai 40 persen dan direncanakan meningkat menjadi 50 persen pada Juli mendatang.
"Dengan skema ini, sebagian kebutuhan solar yang sebelumnya dipenuhi dari impor kini dapat digantikan oleh produk berbasis sawit yang diproduksi di dalam negeri," ujarnya.
Terinspirasi dari keberhasilan tersebut, langkah serupa pun disiapkan untuk bensin. Bahlil bahkan melakukan kunjungan ke Brasil, negara yang telah lebih dulu menerapkan mandatori pencampuran etanol.
Ia menilai bahwa bahan bakunya, seperti singkong, jagung, dan tebu, tersedia melimpah di Indonesia.
Untuk gas rumah tangga, tantangannya berbeda. Indonesia mengimpor 7,47 metrik ton (MT) Liquefied Petroleum Gas (LPG) per tahun karena produksi dalam negeri, sekitar 1,94 MT, hanya mampu memenuhi seperlima dari kebutuhan nasional. Ditambah lagi subsidi LPG menelan hampir Rp80-87 triliun per tahun dari kas negara.
Sebagai jalan keluar, pemerintah mengembangkan Compressed Natural Gas atau CNG, gas yang dipadatkan dan dikemas dalam tabung, yang diklaim 30 hingga 40 persen lebih murah dibanding LPG.
"Teknologi ini sudah diujicobakan di restoran dan sejumlah dapur program makan bergizi gratis, dan sedang disiapkan untuk pasar rumah tangga," ujarnya.
