Mensos: Sekolah Rakyat Bagian dari Strategi Pengentasan Kemiskinan

Laporan: Tio Pirnando
Minggu, 03 Mei 2026 | 16:38 WIB
Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf (SinPo.id/ Dok. Kemensos)
Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf (SinPo.id/ Dok. Kemensos)

SinPo.id - Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menekankan pentingnya intervensi negara secara menyeluruh hingga ke level keluarga, dengan mengedepankan semangat gotong royong, untuk mengentas kemiskinan melalui sektor pendidikan, khususnya lewat program Sekolah Rakyat. Karena, Sekolah Rakyat menjadi langkah strategis untuk menjangkau kelompok paling rentan.

"Sekolah Rakyat ini adalah bagian dari strategi besar pengentasan kemiskinan. Kita tidak hanya mengintervensi anaknya, tapi juga keluarganya. Harapannya, ketika anaknya lulus, keluarganya juga ikut naik kelas," kata Gus Ipul dalam keterangannya, Minggu, 3 April 2026.

Gus Ipul memaparkan, berdasarkan data, lebur dari 4 juta anak usia 7–18 tahun di Indonesia tercatat tidak sekolah, putus sekolah, atau berisiko putus sekolah. 

Data ini diperkuat oleh temuan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan masih adanya anak-anak yang belum terjangkau layanan pendidikan, dengan kecenderungan putus sekolah meningkat pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.  

Untuk itu, pendekatan berbasis keluarga menjadi kunci untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi yang selama ini menjadi salah satu akar persoalan pendidikan.

"Ada jutaan anak yang tidak terlihat dalam sistem. Mereka ini invisible people. Bisa jadi ada di sekitar kita, tapi tidak tersentuh program," kata Gus Ipul.

Dia menjelaskan, Sekolah Rakyat diposisikan sebagai pendongkrak dari lapisan paling bawah agar kesenjangan pendidikan dapat dipersempit secara sistemik.

"Kalau kita bicara standar pendidikan yang baik, tentu tinggi. Tapi bagaimana semua bisa naik ke sana? Jawabannya gotong royong. Sekolah Rakyat ini menjadi instrumen untuk mengangkat dari bawah," tegasnya.

Gus Ipul juga menyoroti tantangan baru pendidikan di era teknologi. Di satu sisi, anak-anak Indonesia adalah generasi digital native, sisi lain masih terdapat ketimpangan akses dan kesiapan.

"Kita tidak punya banyak pilihan selain beradaptasi dengan teknologi. Tapi dengan keterbatasan anggaran, gotong royong menjadi keharusan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri," ungkapnya.

Ia menegaskan, ruang partisipasi publik harus dibuka seluas-luasnya supaya kebijakan tidak berhenti di tingkat pusat, tetapi benar-benar dirasakan hingga ke akar rumput.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menilai keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh lingkungan.

"Hampir seluruh teori belajar menunjukkan bahwa keberhasilan belajar dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan belajar yang bersih dan lingkungan sosial yang nyaman menjadi kunci," kata Mu'ti. 

Dia menegaskan, birokrasi harus mampu "feeling the gap" atau mengisi kesenjangan yang belum terjangkau, dengan menghimpun kekuatan masyarakat.

"DNA bangsa Indonesia adalah gotong royong. Tantangannya adalah bagaimana menggerakkan dan menyatukan kekuatan itu," kata Mu'ti. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI