Wacana Penutupan Prodi, P2G Ingatkan Kampus Bukan Pabrik
SinPo.id - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai, wacana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) akan mengevaluasi bahkan menutup program studi di perguruan tinggi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri, merupakan rencana kebijakan prematur dan salah diagnosis.
Menurut Kepala Litbang Pendidikan P2G, Feriyansyah, persoalan utama pendidikan tinggi nasional bukan pada banyaknya program studi, melainkan kegagalan dalam membangun sinkronisasi antara tata kelola pendidikan tinggi, distribusi mahasiswa, dan kesiapan ekosistem industri nasional.
"Jangan buru-buru menyalahkan program studi sebagai penyebab pengangguran lulusan. Data justru menunjukkan problem utamanya adalah ketidaksinkronan perencanaan negara. Menutup prodi adalah jalan pintas birokrasi, bukan reformasi pendidikan tinggi," ujar Feriyansyah dalam keterangannya, Minggu, 3 April 2026.
Menurut Feriyansyah, pendekatan penutupan prodi menunjukkan cara pandang yang terlalu teknokratis. Universitas dibaca hanya sebagai pemasok tenaga kerja industri, bukan sebagai institusi pembentukan nalar kritis, kepentingan publik, dan peradaban bangsa.
"Universitas tidak bisa diperlakukan seperti pabrik. Ketika hidup mati program studi ditentukan hanya dari logika pasar, maka negara sedang mempersempit mandat pendidikan tinggi menjadi sekadar mesin produksi buruh berijazah," tegasnya.
Feriyansyah memaparkan, berdasarkan pemetaan nasional pendidikan tinggi, bidang Pendidikan justru merupakan bidang ilmu terbesar di Indonesia dengan 6.933 program studi, 55.442 dosen, dan 2.248.294 mahasiswa. Jumlah tersebut menempatkan bidang Pendidikan sebagai bidang dengan mahasiswa dan program studi terbanyak secara nasional.
Menurutnya, fakta ini menegaskan bidang pendidikan masih menjadi tulang punggung reproduksi intelektual bangsa karena dari sinilah lahir guru, tenaga kependidikan, peneliti kurikulum, dan pedagog yang menopang sistem sekolah nasional.
"Kalau bidang sebesar ini dibaca hanya sebagai oversupply, negara sedang gagal memahami pendidikan sebagai investasi peradaban. Guru bukan sekadar angka supply tenaga kerja, melainkan fondasi republik," tegasnya.
Feriyansyah juga menyoroti adanya anomali pada bidang teknik yang selama ini kerap dijadikan simbol program studi paling relevan dengan industri. Secara nasional, bidang Teknik memiliki 6.190 program studi dan 55.731 dosen, namun jumlah mahasiswanya hanya 1.549.701, jauh di bawah bidang Pendidikan, Sosial, dan Ekonomi.
Jika dihitung dari rasio mahasiswa per program studi, bidang Teknik justru lebih rendah dibanding sejumlah bidang lain. Kondisi ini menunjukkan persoalan pendidikan tinggi nasional bukan sesederhana terlalu banyak program studi non-industri, melainkan ada mismatch antara pembukaan program studi, kemampuan akses mahasiswa, dan belum siapnya pasar kerja nasional.
"Ini membuktikan bahwa bahkan prodi yang paling dipuja negara sebagai masa depan industri pun mengalami ketimpangan okupansi. Negara sibuk memperbanyak etalase teknik, tetapi lupa membangun rumah industrinya," tandas Feriyansyah.
