Peneliti BRIN: Indonesia Tak Miliki Partai Mayoritas yang Bisa Bantu Pemerintahan Sendiri

Laporan: Tio Pirnando
Rabu, 29 April 2026 | 18:29 WIB
Peneliti BRIN, Dewi Fortuna Anwar (SinPo.id/Tio Pirnando)
Peneliti BRIN, Dewi Fortuna Anwar (SinPo.id/Tio Pirnando)

SinPo.id - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dewi Fortuna Anwar menganggap, sistem politik Indonesia "agak banci", karena menganut sistem multi partai yang tidak memungkinkan adanya partai mayoritas tunggal. Akibatnya, pemerintah harus membentuk kabinet gemuk demi "mengamankan" parlemen. 

"Sistem politik kita adalah sistem yang agak banci, karena kita memiliki sistem multi partai. Sehingga tidak akan ada partai yang betul-betul bisa memiliki mayoritas, membantu pemerintahan sendiri. Dan Presiden ini tidak bisa memerintah tanpa dukungan yang memadai dari Parlemen," kata Dewi dalam diskusi bertajuk "Resiliensi Demokrasi dalam Menghadapi Krisis Ekonomi Global dan Pergeseran Geopolitik" di The Habibie Center, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 29 April 2026. 

Menurut Dewi, kekhawatiran berlebihan terhadap upaya pemakzulan (impeachment) mendorong presiden merangkul partai politik. "Jadi bukan hanya menjalankan undang-undang dan memerintah sendiri, tapi ada kekhawatiran terhadap impeachment yang berlebihan. Jadi ada upaya untuk merangkul, merangkul," ujarnya.

Akibatnya, yang terbentuk bukan pemerintahan efisien, melainkan koalisi besar yang tidak efisien." Jadi bukan lagi logika memerintah yang efisien, tetapi justru koalisi gebuk yang sangat tidak efisien," tegasnya. 

Dia menambahkan, dalam koalisi itu ada orang-orang di pemerintahan yang tidak dipilih berdasarkan pengalaman. Kondisi tersebut semakin menutup ruang publik untuk perbedaan pendapat. "Jadi artinya apa? Semakin tidak ada ruang publik untuk dissenting opinion," paparnya.

Untuk itu, tegas Dewi, diperlukan diskusi mendalam mengenai kompatibilitas antara sistem presidensial dengan sistem politik multi partai yang selalu melahirkan banyak partai tanpa mayoritas. 

"Ini saya kira kita perlu membicarakan struktur bagaimana kompatibilitas antara sistem presidensial kita dengan sistem politik kita ini yang selalu akan melahirkan partai yang banyak dan tidak akan ada mayoritas," tukasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI