Peneliti Sebut Mundurnya UEA dari OPEC Melemahkan Pengaruh Iran di Selat Hormuz

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 29 April 2026 | 03:36 WIB
Minyak Mentah  (SinPo.id/tim media)
Minyak Mentah (SinPo.id/tim media)

SinPo.id -  Peneliti dan analis politik Tariq Abu Zeinab menegaskan bahwa keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan aliansi OPEC+ merupakan langkah kedaulatan yang sejalan dengan kepentingan nasional serta kapasitas produksi riil negara tersebut. Dalam wawancara eksklusif dengan Voice of the Emirates, ia menyebut keputusan ini sebagai strategi jangka panjang yang memperkuat posisi UEA di pasar energi global.

Menurut Abu Zeinab, langkah ini akan berlaku mulai 1 Mei 2026 dan mencerminkan visi strategis UEA untuk mempercepat investasi di sektor energi domestik, sekaligus memastikan pasokan global tetap stabil. “Keputusan ini menegaskan komitmen UEA sebagai produsen yang bertanggung jawab dan mampu merespons perubahan pasar tanpa terikat kuota tradisional,” ujarnya.

Ia menambahkan, keluarnya UEA dari OPEC+ memiliki dimensi geopolitik yang signifikan. Salah satunya adalah mengurangi kemampuan Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan politik. Dengan fleksibilitas penuh untuk meningkatkan produksi, UEA dapat menjadi alternatif global yang cepat dan andal, sehingga keamanan energi tidak lagi “disandera” oleh ancaman regional.

Abu Zeinab juga menekankan bahwa minyak UEA merupakan salah satu yang paling kompetitif dan rendah emisi karbon di dunia, menjadikannya kunci dalam menyeimbangkan kebutuhan pertumbuhan ekonomi global dengan target pengurangan emisi.

“Era pasca-OPEC akan ditandai dengan pendekatan bertahap dan terukur, sesuai permintaan pasar, untuk menjaga keberlanjutan aliran minyak dan melindungi ekonomi global dari guncangan mendadak,” tutupnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI