Rift Makin Terbuka: Faksi Ultrakonservatif Iran Pecah Soal Negosiasi dengan AS
SinPo.id - Perpecahan tajam mengenai cara menghadapi Amerika Serikat kini merembes ke lapisan terdalam establishment garis keras Iran. Perselisihan yang biasanya tertutup rapat di balik slogan loyalitas revolusioner, kali ini muncul ke permukaan melalui media negara dan faksi politik yang selama ini tampak solid.
Ketegangan memuncak setelah sejumlah anggota parlemen ultrakonservatif menolak menandatangani surat dukungan terhadap tim negosiasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dalam perundingan di Islamabad. Dari 27 anggota parlemen yang menolak, tujuh di antaranya berasal dari kubu Saeed Jalili, mantan negosiator nuklir dan rival lama Ghalibaf.
Mahmoud Nabavian, salah satu anggota parlemen yang ikut ke Islamabad, menuding tim negosiasi melanggar “garis merah” Mojtaba Khamenei dengan membahas isu nuklir bersama Amerika Serikat. Jalili sendiri memperkeruh suasana dengan meminta Mojtaba Khamenei memperjelas apakah langkah tim negosiasi sesuai arahan, bahkan menyinggung adanya “sedition of officials” jika tidak ada klarifikasi.
Perseteruan ini kemudian meluas ke media. Tasnim News Agency, yang berafiliasi dengan Garda Revolusi, menulis editorial bahwa tuntutan mencabut semua sanksi atau gencatan senjata komprehensif hanyalah “dongeng kacang ajaib.” Raja News membalas dengan keras, hingga Tasnim menuduhnya memecah belah dan “melanjutkan proyek Trump di Iran.”
Ketegangan juga merambah ke kanal Telegram Saberin News yang menyamakan Partai Paydari dengan kaum Khawarij—kelompok ekstremis yang menentang dan membunuh Imam Ali. Tuduhan itu menyebut mereka “menabur perpecahan di medan perang” dan “bermain untuk kepentingan Israel dan Amerika Serikat.”
Di sisi lain, lembaga penyiaran negara IRIB turut disorot karena dianggap bias. Data Khabar Online menunjukkan 8 dari 10 narasumber yang tampil dalam program IRIB berasal dari kalangan konservatif, dengan 15 persen terkait Front Paydari.
Meski Raja News menyatakan akan menempuh jalur hukum dan menghindari polemik publik, eskalasi konflik internal ini menandai retaknya kesatuan garis keras Iran di tengah ketidakpastian arah hubungan dengan Washington. Dengan taruhan besar—antara melanjutkan negosiasi atau kembali ke konfrontasi—membendung perpecahan tampaknya semakin sulit dilakukan.
