Iran Tuduh AS Lakukan Sabotase Sistematis pada Infrastruktur Jaringan di Tengah Konflik
SinPo.id - Media resmi Iran menuduh Amerika Serikat melakukan sabotase sistematis terhadap infrastruktur jaringan buatan AS yang digunakan di dalam negeri. Tuduhan ini muncul setelah terjadi pemadaman dan reboot perangkat jaringan secara terkoordinasi, meski pemerintah Iran telah memutus akses internet hampir sepenuhnya sejak pecahnya konflik pada akhir Februari.
Menurut laporan Fars News Agency, perangkat dari perusahaan seperti Cisco, Juniper, Fortinet, dan MikroTik mengalami gangguan serentak. Iran menuding adanya “backdoor” yang dipasang secara rahasia oleh perusahaan teknologi AS atas permintaan pemerintah, sehingga perangkat bisa dimatikan dari jarak jauh. Iran bahkan menyebut kemungkinan penggunaan jaringan satelit sebagai medium aktivasi.
Klaim yang Sulit Diverifikasi
Iran masih bergantung pada impor teknologi asing, sehingga tuduhan ini menambah ketegangan geopolitik. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen karena akses internet di Iran sangat terbatas. Hanya pejabat pemerintah dan kelompok tertentu yang mendapat akses, sementara publik mengalami pemblokiran hampir total.
Dukungan dari China
China sebelumnya juga pernah menuduh AS memasang backdoor dalam chip dan perangkat keras yang diimpor, serta melancarkan serangan siber melalui kelompok seperti Volt Typhoon. Kini, media pemerintah China turut menyebarkan teori Iran, memperkuat narasi bahwa AS menggunakan teknologi sebagai alat sabotase global.
Potensi Botnet
Selain tuduhan backdoor, Iran juga mengisyaratkan bahwa sebagian perangkat mungkin terlibat dalam botnet yang memicu pemadaman jaringan luas. Hal ini menambah spekulasi bahwa gangguan bukan sekadar akibat pemutusan internet internal, melainkan serangan eksternal yang terkoordinasi.
Konteks Konflik
Sejak perang dengan AS pecah, Iran berusaha mengisolasi diri dari internet global sebagai bentuk kontrol informasi. Namun, tuduhan terbaru menunjukkan bahwa bahkan langkah drastis itu tidak cukup untuk mencegah gangguan pada infrastruktur digital yang masih bergantung pada teknologi asing.
