Pesan Trump soal Iran Makin Tak Menentu, Gedung Putih Dua Kali Koreksi Pernyataannya
SinPo.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menimbulkan kebingungan dengan pernyataan-pernyataan terkait konflik Iran. Dalam beberapa hari terakhir, Gedung Putih bahkan harus dua kali mengoreksi ucapannya.
Trump kerap berkomentar secara spontan melalui unggahan di Truth Social maupun percakapan telepon dengan sejumlah jurnalis, termasuk dari AFP. Pola komunikasi ini dinilai tidak lazim dan menambah ketidakpastian arah kebijakan AS terhadap Iran.
Koreksi Gedung Putih
Pada Minggu, Trump mengatakan Wakil Presiden JD Vance tidak akan memimpin delegasi AS dalam putaran kedua pembicaraan di Pakistan. Namun, pernyataan itu segera dibantah oleh sumber resmi. Sehari kemudian, Trump menyebut para negosiator sudah berangkat ke Islamabad, padahal Vance masih berada di Washington untuk menghadiri rapat.
Kritik Akademisi
Menurut Robert Rowland, profesor komunikasi dari University of Kansas, cara Trump berkomunikasi justru bertolak belakang dengan tradisi presiden sebelumnya yang berusaha menyatukan publik di masa konflik. “Trump membuat segalanya sangat partisan,” ujarnya.
Trump juga menyerang lawan politik dengan menyebut Demokrat sebagai “pengkhianat” dan menuding media merusak dukungan terhadap operasi militer di Iran.
Kontroversi Publik
Postingan Trump di Truth Social sering berisi ancaman apokaliptik bercampur bahasa santai, bahkan kasar. Ia sempat menuai kecaman setelah membagikan gambar AI yang menampilkan dirinya sebagai Yesus Kristus, hingga mengenakan topi bertuliskan “USA” saat upacara pemulangan jenazah prajurit.
Trump, yang dibebaskan dari wajib militer di era Vietnam karena alasan medis, bahkan mengklaim di CNBC bahwa dirinya akan “menang cepat” jika memimpin perang Vietnam.
Fokus yang Terganggu
Pesan Trump tentang Iran juga kerap bercampur dengan topik favoritnya: pembangunan gedung. Dalam wawancara CNBC, ia sempat beralih membahas renovasi kantor Federal Reserve dan proyek ballroom baru di Gedung Putih.
Kebiasaan ini semakin memperkuat kesan bahwa pesan Trump mengenai Iran tidak konsisten, menambah keraguan publik dan sekutu tentang arah kebijakan AS di tengah konflik yang masih berlangsung.
