Memahami Blokade Laut: Bagaimana Rencana AS di Selat Hormuz Akan Dijalankan
SinPo.id - Amerika Serikat mengumumkan akan mulai menegakkan blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada Senin 13 April 2026. Kapal yang menuju atau berangkat dari pelabuhan non-Iran tetap diizinkan melintas di Selat Hormuz, jalur vital yang selama konflik ditutup Iran.
Presiden Donald Trump menyatakan di Truth Social bahwa Angkatan Laut AS akan “memblokade semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz” serta menginterdiksi kapal yang membayar “toll” kepada Iran. Ia juga menegaskan bahwa setiap serangan dari pihak Iran akan dibalas dengan kekuatan penuh.
Apa itu blokade laut?
Menurut US Navy Commander’s Handbook on Naval Operations Law (2022), blokade adalah operasi militer untuk mencegah kapal atau pesawat dari semua negara—baik musuh maupun netral—masuk atau keluar dari pelabuhan atau wilayah pesisir yang dikuasai negara musuh. Dalam praktiknya, blokade ditegakkan dengan kehadiran kapal perang yang mengawasi jalur masuk dan keluar, serta pemberitahuan resmi kepada pelaut komersial.
Bagaimana blokade di Selat Hormuz akan bekerja?
Pelaksanaan: CENTCOM menyebut blokade akan dimulai pukul 10.00 EDT, diberlakukan secara “imparsial” terhadap semua kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran.
Pengecualian: Kapal menuju pelabuhan non-Iran tidak akan dihalangi.
Tambahan operasi: AS berencana menggunakan kapal penyapu ranjau untuk menghancurkan ranjau laut yang diklaim Iran telah dipasang.
Sekutu: Trump menyebut NATO akan membantu “membersihkan” jalur, meski Inggris menegaskan tidak akan ikut serta dalam blokade, melainkan membentuk koalisi dengan Prancis dan mitra lain untuk mendukung kebebasan navigasi.
Dampak dan kontroversi
Ekonomi global: Selat Hormuz adalah jalur bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia. Penutupan atau pembatasan lalu lintas berpotensi menaikkan harga energi.
Hukum internasional: Sejumlah pakar hukum menilai blokade bisa melanggar hukum maritim dan berpotensi bertentangan dengan kesepakatan gencatan senjata yang masih berlaku.
Efektivitas: Analis maritim Lars Jensen menilai dampak langsung blokade relatif kecil karena hanya segelintir kapal yang masih melintas sejak gencatan senjata. Namun, ancaman blokade tetap menjadi tekanan politik terhadap Iran.
