Trump Frustrasi, Inggris Tolak Ikut Blokade Selat Hormuz

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 13 April 2026 | 00:31 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi pukulan diplomatik setelah Inggris, salah satu sekutu utama Washington, menolak bergabung dalam rencana blokade Selat Hormuz yang diumumkannya.

Trump sebelumnya menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk menginterdiksi kapal-kapal yang membayar “toll” kepada Iran, menyusul gagalnya pembicaraan damai antara kedua negara. Namun, pemerintah Inggris menegaskan tetap mendukung kebebasan navigasi dan menolak langkah yang dinilai dapat memperburuk krisis.

“Kami terus mendukung kebebasan navigasi dan keterbukaan Selat Hormuz, yang sangat penting bagi ekonomi global dan biaya hidup di dalam negeri,” ujar juru bicara pemerintah Inggris, seperti dilansir BBC.

Perdana Menteri Keir Starmer bahkan menyindir bahwa masyarakat Inggris sudah lelah menghadapi naik-turun harga energi akibat tindakan pemimpin dunia. Sementara itu, Menteri Energi Ed Miliband sebelumnya mengungkapkan kekhawatiran bahwa pengerahan kapal atau pesawat penyapu ranjau justru bisa memicu eskalasi konflik.

Trump, yang meluncurkan perang mendadak terhadap Iran bersama Israel pada akhir Februari, semakin frustrasi karena NATO tidak mendukung penuh langkah AS. Dalam wawancara televisi, ia menuding Jerman dan Inggris “tidak hadir” untuk membantu Amerika, meski tetap mengklaim sejumlah negara akan bergabung dalam blokade.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia. Penutupan jalur akibat ranjau Iran telah memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas energi global.

Di tengah tekanan internasional, Inggris justru berupaya membangun koalisi bersama Prancis dan mitra lain untuk menjaga kebebasan navigasi tanpa ikut serta dalam strategi Trump. Situasi ini menambah ketegangan antara Washington dan sekutu Eropa, dengan laporan bahwa Gedung Putih mempertimbangkan langkah balasan, termasuk penarikan pasukan AS dari negara-negara NATO yang menolak mendukung perang.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI