AS dan Iran Belum Sepakat soal Selat Hormuz

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 12 April 2026 | 13:26 WIB
Ilustrasi peta Selat Hormuz. (SinPo.id/ AFP)
Ilustrasi peta Selat Hormuz. (SinPo.id/ AFP)

SinPo.id - Isu terkait Selat Hormuz menyebabkan perbedaan pendapat yang serius antara delegasi Amerika Serikat (AS) dan Iran selama pembicaraan di Islamabad, Pakistan, demikian dilaporkan media Iran pada Sabtu, 11 April 2026.

Stasiun televisi milik Pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa delegasi perundingan telah mengadakan dua putaran pembicaraan di Islamabad dan putaran ketiga dilakukan pada Sabtu malam.

Selat Hormuz termasuk di antara isu-isu yang menyebabkan perbedaan pendapat besar di antara para negosiator, karena Iran bersikeras untuk mempertahankan keberadaan militernya di perairan tersebut, demikian dilaporkan Kantor Berita Tasnim.

Para negosiator dari pihak Iran juga menekankan perlunya upaya untuk memastikan hak-hak rakyat Iran, demikian laporan tersebut.

Wakil Presiden AS J.D. Vance menyatakan tidak ada kesepakatan yang tercapai setelah memimpin delegasi AS dalam pembicaraan tatap muka dengan pihak Iran di Pakistan. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya kembali ke AS tanpa membawa hasil kesepakatan.

Perundingan berlanjut hingga hari kedua pada Minggu, 12 April 2026, di tengah kondisi gencatan senjata sementara yang disepakati pekan lalu antara AS dan Iran yang dinilai semakin rapuh. Pihak Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf.

Media Iran menyebut perbedaan pandangan, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, yang menjadi hambatan utama dalam perundingan.

Media CNN, mengutip seorang pejabat Iran yang menyatakan bahwa status Selat Hormuz tidak akan berubah kecuali Iran dan AS mencapai “kerangka bersama” untuk melanjutkan negosiasi. Ia juga menyebut tuntutan berlebihan dari pihak AS telah menghambat jalannya perundingan.

Penutupan secara efektif terhadap Selat Hormuz oleh Iran telah mengguncang pasar global dan mendorong lonjakan harga energi, mengingat jalur sempit tersebut menjadi rute penting bagi pengangkutan minyak mentah, gas alam cair, serta pupuk ke Asia dan kawasan lainnya. Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut.

Presiden AS Donald Trump telah mendesak Iran untuk menjamin kelancaran pelayaran kapal melalui selat tersebut, menyusul kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu yang dicapai pekan lalu.

Namun, gencatan senjata tersebut dinilai rapuh, dengan Israel masih melanjutkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran, yang menurut AS tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut.

Di tengah perundingan yang dimediasi Pakistan, Selat Hormuz tetap menjadi agenda utama. Militer AS menyatakan dua kapal perusak Angkatan Lautnya telah melintasi jalur tersebut sebagai persiapan operasi pembersihan ranjau, klaim yang dibantah oleh Iran.

Ranjau yang dilaporkan dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran menimbulkan kekhawatiran bahwa diperlukan waktu untuk menjamin jalur aman bagi kapal tanker dan kapal lainnya, bahkan jika blokade Iran berakhir.

Dalam perundingan tersebut, Vance didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden Trump. Sementara dari pihak Iran juga hadir Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI