AS dan Iran Mulai Perundingan Gencatan Senjata di Pakistan, Ketegangan di Selat Hormuz Memanas

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 12 April 2026 | 02:16 WIB
Perang (Pixabay)
Perang (Pixabay)

SinPo.id -  Perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran resmi dimulai di Pakistan. Namun, ketegangan militer di kawasan Teluk tetap meningkat setelah manuver kapal perang AS di Selat Hormuz pada Sabtu 11 April 2026

Menurut laporan Axios, kapal perusak Angkatan Laut AS melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Persia lalu kembali ke Laut Arab tanpa koordinasi dengan Iran. Langkah ini disebut sebagai operasi kebebasan navigasi. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi dua kapal perusak dikerahkan untuk memulai proses pembersihan ranjau, dengan dukungan drone bawah laut. “Hari ini kami mulai membangun jalur baru dan akan segera membagikan jalur aman ini kepada industri maritim untuk mendorong kelancaran perdagangan,” ujar Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper.

Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata. Bloomberg melaporkan, kapal AS dipaksa mundur setelah Korps Garda Revolusi Iran meluncurkan drone ke arah mereka. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan di Truth Social bahwa negaranya “memulai proses pembersihan Selat Hormuz.” Pada hari yang sama, tiga supertanker minyak berhasil melintasi jalur sempit tersebut, menjadi arus keluar terbesar sejak Iran menutup akses enam minggu lalu.

Meski Trump menghentikan operasi militer selama dua pekan demi memberi ruang bagi perundingan, situasi tetap rapuh. Iran masih mengendalikan ketat jalur strategis yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia. Di sisi lain, AS terus memperkuat kehadiran militernya dengan mengirimkan kapal induk ketiga, ribuan marinir, pasukan terjun payung, serta rudal jelajah jarak jauh ke kawasan Timur Tengah.

Pengamat energi Bob McNally menilai kondisi saat ini ibarat “bersiap untuk ronde kedua.” Menurutnya, upaya AS melemahkan kemampuan Iran menutup Selat Hormuz akan memperkuat peluang tercapainya gencatan senjata penuh akhir bulan ini. Namun, ia mengingatkan bahwa ancaman Iran berupa rudal, drone, kapal cepat, hingga ranjau laut masih cukup untuk menakuti kapal dagang. Iran bahkan disebut berupaya melegalkan pungutan “tol” sekitar 2 juta dolar bagi kapal yang melintas.

Negara-negara Teluk yang bergantung pada jalur Hormuz menolak keras kontrol Iran, sementara kalangan finansial di Wall Street memperingatkan dominasi dolar AS bisa terancam jika jalur perdagangan global terganggu. McNally menegaskan, membiarkan Iran menguasai Selat Hormuz akan menjadi preseden berbahaya bagi stabilitas perdagangan dunia.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI