Gencatan Senjata Iran-AS, MUI: Momentum Hentikan Agresi di Gaza hingga Lebanon

Laporan: Tio Pirnando
Sabtu, 11 April 2026 | 14:36 WIB
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim. (SinPo.id/dok. MUI)
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim. (SinPo.id/dok. MUI)

SinPo.id - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai, kesepakatan adanya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS), merupakan momentum untuk menghentikan seluruh agresi militer Israel di Gaza, Tepi Barat hingga Lebanon. 

"Gencatan senjata ini harus menjadi momentum untuk mendorong penghentian seluruh bentuk agresi dan kekerasan di wilayah lain, khususnya yang dilakukan Israel di Gaza, Tepi Barat dan Lebanon," kata Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim, dalam keterangannya, Sabtu, 11 April 2026. 

Sudarnoto menambahkan, upaya perdamaian di satu sisi berjalan, sementara penindasan dan kekerasan terus berlangsung di sisi lain adalah hal yang tidak bisa diteirma. 

"Amerika Serikat wajib menunjukkan keberanian politik dan tanggung jawab moralnya untuk menekan Israel agar menghentikan seluruh agresi," tegasnya. 

Sudarnoto menekankan, perdamaian global hanya dapat terwujud jika prinsip keadilan ditegakkan secara konsisten tanpa standard ganda.

Meski begitu, MUI menyambut baik prakarsa gencatan senjata antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan. 

MUI memuji peran Pakistan yang telah membuat keputusan penting untuk deeskalasi. Upaya itu juga untuk mewujudkan ketenangan sosial dan politik serta pemulihan atau stabilitas ekonomi global. Langkah ini merupakan perkembangan penting dalam meredakan ketegangan geopolitik yang selama ini berpotensi mengganggu keamanan dan stabilitas global.

Dari sisi politik dan ekonomi internasional, de-eskalasi ini tidak hanya menurunkan risiko konflik terbuka, tetapi juga membuka ruang bagi pemulihan kepercayaan pasar, stabilitas energi, serta penguatan kerja sama multilateral. 

"Gencatan senjata ini upaya menghadirkan maslahat global yang lebih luas bagi umat manusia," ujarnya. 

Dia menambahkan, terkait tuntutan yang diajukan Iran kepada AS mencerminkan simbol kedaulatan, jaminan keamanan nasional, penghormatan terhadap hukum internasional, serta penghentian tekanan sepihak dalam bentuk sanksi maupun ancaman militer. 

"Iran juga menekankan pentingnya pengakuan atas hak-haknya dalam pengembangan teknologi, non-intervensi terhadap urusan domestik, serta komitmen yang jelas dan terukur dari pihak Amerika dalam menjaga kesepakatan," uca. 

Selain itu, tuntutan tersebut juga mencerminkan posisi Iran yang semakin menguat. Sehingga bisa dimengerti jika ada yang berpandangan ini sebagai bentuk 'kemenangan' Iran. 

Hal ini juga adalah kemenangan proporsional, bukan sebagai bentuk dominasi sepihak, melainkan keberhasilan diplomasi dalam mempertahankan prinsip kedaulatan dan martabat bangsa melalui jalur damai. 

Menurutnya, kesediaan Iran ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi banyak negara terutama negara-negara Muslim untuk harus bersungguh-sungguh dan istiqomah dalam menghadapi kezaliman besar duet Israel-Amerika baik melalui kontak senjata maupun diplomasi.

"Saya juga ingin menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada pemerintah Iran yang juga telah melakukan langkah diplomatik yang sangat penting dan sungguh-sungguh," tukasnya. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI