Kapal Afrika Mulai Lintasi Selat Hormuz di Tengah Gencatan Senjata Rapuh AS-Iran

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 11 April 2026 | 03:29 WIB
Ilustrasi peta Selat Hormuz (SinPo.id/ AFP)
Ilustrasi peta Selat Hormuz (SinPo.id/ AFP)

SinPo.id -  Sejumlah kapal berbendera Afrika menjadi yang pertama berani melintasi Selat Hormuz setelah tercapai gencatan senjata rapuh antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, lalu lintas maritim di jalur vital minyak dunia itu masih sangat terbatas dan penuh ketidakpastian.

Data pelacakan kapal menunjukkan hanya segelintir kapal yang berhasil melintas sejak gencatan senjata diumumkan, jauh di bawah rata-rata normal lebih dari 100 kapal per hari. Saat ini, lebih dari 600 kapal, termasuk 300 tanker, masih tertahan di kawasan Teluk.

Salah satu kapal yang berhasil melintas adalah tanker berbendera Gabon, MSG, yang membawa sekitar 7.000 ton bahan bakar minyak asal Uni Emirat Arab menuju India. Kapal lain berbendera Liberia, Daytona Beach, juga berhasil melewati jalur tersebut setelah berangkat dari Bandar Abbas, Iran.

Namun tidak semua kapal mendapat izin bebas. Tanker LNG berbendera Botswana, Nidi, dilaporkan harus berbalik arah setelah diminta oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk mengikuti jalur yang ditentukan. Hal ini menegaskan kontrol operasional Iran atas pergerakan kapal di kawasan tersebut.

Iran mewajibkan kapal untuk berkoordinasi dan mengikuti koridor tertentu dengan alasan keamanan. Sementara itu, duta besar Iran untuk Afrika Selatan, Mansour Shakib Mehr, menegaskan bahwa laporan penutupan total jalur itu tidak benar. Ia menyebut hanya kapal yang terkait AS dan Israel yang dibatasi, sementara pengiriman ke negara seperti China dan India tetap berjalan dengan pengaturan khusus.

Di sisi lain, muncul laporan bahwa Iran mempertimbangkan untuk meresmikan kontrolnya atas jalur tersebut dengan sistem pungutan biaya, termasuk kemungkinan pembayaran berbasis kripto untuk pengiriman minyak.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan operator pelayaran dan pasar energi global. Analis memperingatkan bahwa pembatasan berlarut-larut dapat memicu volatilitas berkepanjangan, memperburuk rantai pasok, dan meningkatkan biaya pengiriman.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI