Sekutu Utama AS Kritik Keras Trump, Rencana Gencatan Senjata Iran Dinilai Kacau
SinPo.id - Hubungan antara Amerika Serikat dan sekutu dekatnya, Inggris, mulai memanas setelah pemerintah Inggris secara terbuka mengkritik rencana gencatan senjata Iran yang digagas oleh Donald Trump.
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, mengecam keras usulan Trump yang menyebut kesepakatan dengan Iran sebagai sesuatu yang “indah”, termasuk ide kontroversial untuk mengenakan tarif hingga 2 juta dolar AS bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Menurut Cooper, langkah tersebut melanggar hukum internasional dan tidak dapat dibenarkan.
"
Negara tidak bisa begitu saja menguasai jalur pelayaran internasional dan menetapkan tarif sepihak. Itu bertentangan dengan hukum laut dan aturan PBB,” tegasnya dalam wawancara dengan BBC.
Kekhawatiran Dampak Global
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Inggris menilai kebijakan tersebut berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.
Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, turut memperingatkan bahwa kebijakan semacam itu bisa menjadi preseden berbahaya yang dapat disalahgunakan oleh negara lain.
Inggris Ambil Langkah Sendiri
Ketidakpuasan terhadap kebijakan AS membuat Inggris mengambil inisiatif sendiri. Cooper bahkan memimpin pembicaraan dengan sekitar 40 negara untuk menyusun rencana membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz—tanpa melibatkan Amerika Serikat secara langsung.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, juga melakukan kunjungan ke Timur Tengah guna mendorong solusi diplomatik yang lebih luas, termasuk melibatkan Lebanon dalam kesepakatan gencatan senjata.
Konflik Masih Berlanjut
Meski Trump sebelumnya mengumumkan tercapainya perdamaian, serangan rudal dan drone dilaporkan masih terjadi di kawasan Timur Tengah. Israel juga tetap melanjutkan operasi militernya.
Situasi ini semakin memperlihatkan rapuhnya kesepakatan yang ada.
Retorika Trump Tuai Kritik
Selain kebijakan, retorika Trump juga menjadi sorotan. Cooper menilai pernyataan Trump yang mengancam tindakan ekstrem dapat memperburuk situasi.
Sementara itu, Trump justru semakin bersikap keras terhadap sekutu NATO, bahkan mengkritik mereka karena tidak mendukung penuh kebijakannya.
