Rencana Damai Iran Hampir Gagal, Pentagon Disebut Siap Berontak Jika Trump Lanjutkan Serangan
SinPo.id - Rencana gencatan senjata yang dimediasi Pakistan dengan Iran disebut menyelamatkan pemerintahan Donald Trump dari potensi krisis internal di Pentagon. Menurut laporan terbaru, jika kesepakatan damai tidak diumumkan tepat sebelum tenggat Trump—yang sempat mengancam “satu peradaban akan mati malam ini”—Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth akan menghadapi pemberontakan dari para pengacara militer di Pentagon.
David Rohde dari MS NOW mengungkapkan kepada Morning Joe bahwa sejumlah pengacara Pentagon berkomitmen menolak menyetujui daftar target yang diajukan Gedung Putih karena dianggap berpotensi menjadi kejahatan perang.
“Kami akan menghancurkan semua jembatan dan pembangkit listrik, seolah-olah rezim mendapat keuntungan dari itu. Para pengacara militer berbicara satu sama lain dan mereka tidak akan menandatangani daftar target yang melibatkan kejahatan perang,” kata Rohde.
Ia menegaskan bahwa militer AS tidak pernah secara sengaja melakukan kejahatan perang.
“Militer Amerika Serikat tidak dengan sengaja melakukan kejahatan perang. Itu bukan cara kita berperang. Itu salah satu kualitas kita sebagai negara demokrasi,” ujarnya.
Rohde menambahkan, perang ini menjadi ujian bagi demokrasi Amerika, karena memperlihatkan bagaimana sistem harus menahan kebijakan eksekutif yang berisiko melanggar hukum internasional. Ia juga menyinggung bahwa Wakil Presiden JD Vance sempat terlibat dalam negosiasi gencatan senjata, meski hanya secara tidak langsung.
Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan damai Iran-AS, sekaligus menyoroti ketegangan antara kebijakan politik dan prinsip hukum militer di Amerika Serikat.
