Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Sipil Iran, Pakar Ragukan Realisasi

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 08 April 2026 | 01:00 WIB
Ilustrasi perang (SinPo.id/AP)
Ilustrasi perang (SinPo.id/AP)

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran, dengan mengatakan akan menghancurkan “setiap jembatan” dan pembangkit listrik dalam waktu empat jam jika kesepakatan tidak tercapai sebelum tenggat pukul 20.00 waktu AS Timur, Selasa 7 April 2026.

Trump bahkan memperingatkan lebih jauh pada Selasa pagi: “Satu peradaban akan mati malam ini,” ujarnya, menegaskan ancaman yang dinilai sebagai pernyataan paling ekstrem dari seorang presiden AS.

Analisis Militer

Namun, para pakar militer menilai ancaman tersebut sulit diwujudkan. Mantan pejabat pertahanan AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan: “Untuk memenuhi ancaman itu secara harfiah akan menjadi tugas yang benar-benar luar biasa. Dan apakah itu akan memiliki efek strategis yang diinginkan?”

Iran memiliki luas sekitar sepertiga dari daratan Amerika Serikat, sehingga mustahil menghancurkan ribuan target infrastruktur dalam waktu singkat.

Target Lebih Realistis

Menurut Miad Maleki, mantan pejabat senior Departemen Keuangan AS, serangan besar terhadap sektor energi Iran lebih mungkin dilakukan ketimbang menghancurkan seluruh jembatan. “Jika Anda melakukan sesuatu terhadap tiga provinsi pesisir — Bushehr, Khuzestan, dan Hormozgan — Anda memotong akses rezim terhadap pendapatan minyak dan Teluk Persia,” ujarnya.

Serangan Kharg Island

Wakil Presiden JD Vance mengonfirmasi bahwa AS telah melancarkan serangan udara ke target militer di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran. Ia menegaskan serangan itu tidak mengubah strategi Trump, namun memperingatkan AS bisa menimbulkan “rasa sakit ekonomi yang jauh lebih besar” jika Iran tidak mengubah sikapnya.

Dampak dan Negosiasi

Meski ancaman terus meningkat, para analis menilai serangan tambahan tidak serta-merta memaksa Iran untuk menyerah. Jason Campbell dari Middle East Institute menekankan bahwa bagi kepemimpinan Iran, perang ini adalah “pertarungan eksistensial, bukan sekadar konflik biasa.”

Negosiasi langsung antara AS dan Iran dilaporkan berlangsung pada Selasa, namun kedua pihak masih berselisih tajam terkait masa depan sektor minyak, program nuklir, dan kendali atas Selat Hormuz.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI