AS Peringatkan Iran: Blokade Hormuz Bisa Jadi ‘Aksi Terakhir’
SinPo.id - Amerika Serikat memperingatkan Iran bahwa penutupan Selat Hormuz dapat menjadi “aksi terakhir” rezim tersebut, setelah Rusia dan China memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang dipimpin Bahrain untuk membuka jalur vital itu dengan langkah defensif.
Pernyataan keras itu disampaikan utusan AS, Mike Waltz, dalam sidang Dewan Keamanan PBB, Selasa 7 April 2026.
“Empat puluh tujuh tahun lalu, aksi pertama rezim Iran adalah menyandera puluhan warga Amerika. Kini mereka menyandera Selat Hormuz, dan dengan itu mencoba menyandera ekonomi dunia. Itu bisa jadi aksi terakhir mereka. Kita lihat nanti,” ujar Waltz.
Veto Rusia-China
Resolusi yang diajukan menyerukan negara-negara untuk berkoordinasi menjaga keamanan pelayaran secara defensif, termasuk mengawal kapal dagang dan mencegah gangguan terhadap lalu lintas internasional.
Dalam pemungutan suara, 11 negara mendukung, sementara Rusia dan China menolak. Kolombia dan Pakistan memilih abstain.
Waltz menilai veto tersebut sebagai “titik terendah baru” dan menuduh Moskow serta Beijing berpihak pada Iran. Ia menyebut Rusia sebagai pemasok utama peralatan militer ke Iran, sementara China mengimpor lebih dari 80% minyak ilegal Iran serta memasok komponen untuk drone dan rudal balistik.
Dampak Kemanusiaan
Waltz menegaskan penutupan Selat Hormuz menghalangi bantuan kemanusiaan penting.
“PBB dan kelompok internasional yang mengirim obat-obatan, perlengkapan tempat tinggal, dan makanan ke krisis di Kongo, Sudan, Gaza tidak bisa melewati Selat,” katanya.
Sikap AS
Meski mengeluarkan ancaman keras, Waltz menegaskan Washington belum meninggalkan jalur diplomasi.
“AS tetap siap untuk diplomasi yang bermakna,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pasukan Amerika “terus mencapai tujuan” dalam operasi militer bernama Operation Epic Fury.
Kebuntuan di PBB ini menyoroti keterbatasan lembaga internasional dalam menghadapi konflik besar ketika kepentingan negara-negara besar saling bertabrakan. Dengan blokade berlanjut, risiko eskalasi konflik di Teluk semakin meningkat.

