Perluas Jangkauan Pasar, Pemerintah Optimalkan Penjualan Sektor IKM via Online
SinPo.id - Kementerian Perindustrian terus mendorong pelaku industri nasional, khususnya industri kecil dan menengah (IKM), untuk mengoptimalkan penerapan teknologi digital dalam menjalankan usaha, di tengah ketatnya persaingan, termasuk dari produk impor. Langkah ini penting untuk meningkatkan daya saing industri di tengah dinamika pasar global yang semakin kompetitif.
"Kami konsisten melaksanakan program peningkatan literasi digital bagi IKM untuk membantu para pelaku IKM menggunakan dan memanfaatkan pemasaran digital agar dapat memperluas jangkauan pasar," kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya, Selasa, 7 April 2026.
Agus menyampaikan, pihaknya menggandeng berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Perindustrian di daerah, akademisi, hingga praktisi industri dan bisnis. Tujuannya untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan program penguatan pelaku IKM dalam negeri.
Seiring dengan meningkatnya tren belanja online, peluang pasar digital di Indonesia terus terbuka lebar. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2025 mencapai 229,43 juta orang.
Sementara itu, data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa jumlah pengguna e-commerce pada 2025 diproyeksikan mencapai 73,06 juta pengguna, meningkat 11 persen dibandingkan tahun 2024 dan melonjak 89 persen dibandingkan 2020.
Bahkan, laporan Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat nilai transaksi e-commerce Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp1.192,8 triliun atau setara US$ 71 miliar.
Melihat potensi tersebut, Ditjen Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin terus mengakselerasi transformasi digital IKM, salah satunya melalui penyelenggaraan Workshop e-Smart IKM dan Literasi Digital. Kegiatan ini dilaksanakan pada 1 April 2026 di Balai Pengembangan Industri Fesyen dan Kriya (BPFIK), Kabupaten Badung, Bali, yang diikuti oleh 80 pelaku IKM setempat.
Dirjen IKMA Reni Yanita mengatakan, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai mitra strategis. Antara lain Shopee, IKEA Indonesia, serta Universitas Ciputra Surabaya. "Pemasaran digital merupakan suatu keharusan bagi pelaku usaha, khususnya IKM, karena memiliki keunggulan dibandingkan pemasaran konvensional," ujarnya.
Reni menjelaskan, perkembangan teknologi juga membuka peluang pemanfaatan akal imitasi (AI) dalam strategi pemasaran.
"AI memungkinkan pelaku usaha melakukan personalisasi promosi sesuai preferensi konsumen, memprediksi tren pasar, serta menganalisis perilaku pelanggan dengan lebih akurat, sehingga efektivitas pemasaran dapat meningkat secara signifikan," imbuhnya.
Kemenperin juga terus mengembangkan program e-Smart IKM yang telah berjalan sejak 2017. Hingga saat ini, sebanyak 31.634 pelaku IKM telah mengikuti program tersebut melalui berbagai kegiatan literasi digital. "Selain mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran, Kemenperin juga mengarahkan IKM untuk melakukan transformasi menuju Industri 4.0 pada lini produksinya," kata Reni.

