Trump Ancam Infrastruktur Sipil Iran, Ultimatum Hormuz Picu Ketegangan Baru
SinPo.id - Dalam situasi perang, para pemimpin kerap menyiapkan pidato dan surat yang kelak tercatat dalam sejarah. Begitu pula Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang pada Minggu Paskah kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran terkait pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Trump menyebut Selasa 7 April 2026 mendatang sebagai “Power Plant Day, and Bridge Day, all wrapped up in one”, sembari mengancam akan menyerang infrastruktur sipil Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi. Ancaman ini bukan yang pertama, setelah sebelumnya ia berulang kali mengeluarkan ultimatum dengan tenggat waktu yang berubah-ubah sejak 21 Maret.
Meski Trump berjanji akan “membom Iran kembali ke zaman batu”, respons dari sekutu maupun Iran menunjukkan sikap menahan diri. Iran bahkan menanggapi dengan sindiran, seperti pernyataan kedutaan di Zimbabwe yang menulis “We’ve lost the keys” atas permintaan Trump untuk membuka Selat Hormuz.
Secara resmi, militer Iran menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil akan dibalas dengan ofensif lebih luas terhadap negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS.
Di balik layar, Trump mengaku kepada Axios bahwa “negosiasi mendalam” dengan Iran sedang berlangsung, dengan tenggat terbaru pada Selasa pukul 20.00. “Ada kemungkinan besar tercapai kesepakatan. Tapi jika tidak, saya akan menghancurkan semuanya di sana,” ujarnya.
Ancaman ini muncul di tengah sorotan atas operasi penyelamatan dramatis seorang kolonel Angkatan Udara AS yang berhasil dievakuasi dari wilayah Iran setelah pesawat F-15 yang ditumpanginya ditembak jatuh. Kisah penyelamatan tersebut dipandang sebagai kemenangan moral bagi AS, menutupi kegagalan operasi serupa pada krisis sandera Iran 1980.

