KP2MI Segera Cari Solusi Atas Lonjakan Permohonan Visa Kerja ke Turki

Laporan: Tio Pirnando
Senin, 06 April 2026 | 16:44 WIB
Wamen P2MI Christina dan Dubes Turki untuk RI Talip Kucukcan (SinPo.id/ Dok. KP2MI)
Wamen P2MI Christina dan Dubes Turki untuk RI Talip Kucukcan (SinPo.id/ Dok. KP2MI)

SinPo.id - Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani, memastikan akan mencari solusi atas meningkatnya permohonan visa kerja bagi pekerja migran Indonesia (PMI) ke Turki. Terlebih, permohonan visa kerja ke Turki meningkat signifikan setahun terakhir. 

"Permohonan visa kerja untuk pekerja migran Indonesia ke Turki meningkat cukup tajam, bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya," kata Christina dalam pertemuan dengan Duta Besar Turki untuk RI, Talip Küçükcan, serta Dirjen Amerika dan Eropa Kemlu, Grata Endah Werdaningtyas, di Kantor Kemenlu, Senin, 6 April 2026. 

Berdasarkan data yang disampaikan Dubes Talip, pada periode November 2024 hingga April 2025, tercatat sekitar 6.700 aplikasi visa kerja. Di periode yang sama November 2025 hingga April 2026, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 12.000 aplikasi, dengan 6.500 di antaranya masih dalam proses.

Menurut Christina, peningkatan ini perlu direspons dengan langkah strategis agar proses penempatan tetap berjalan lancar dan tidak menimbulkan hambatan bagi pekerja migran Indonesia.

Melalui fasilitasi Kemlu, pemerintah Indonesia dan Turki juga telah memiliki kerja sama lewat joint working group di bawah kerangka nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya telah disepakati.

"Melalui forum tersebut, kita berupaya merumuskan langkah antisipasi dan mitigasi agar ke depan proses penempatan dapat berjalan lebih baik dan kendala yang ada saat ini bisa diminimalisir," kata Christina. 

Dalam pertemuan tersebut juga terungkap Pemerintah Turki mengakui kontribusi PMI, khususnya mendukung sektor pariwisata yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi negara tersebut.

Sektor pariwisata Turki menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai sekitar 63,9 juta orang pada 2025, dengan nilai pengeluaran mencapai US$ 65,2 miliar.

"Ini menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja di sektor pariwisata di sana cukup besar, dan pekerja migran Indonesia memiliki peluang berkontribusi di sektor tersebut," kata Christina.

Christina berharap, hasil pertemuan ini dapat menghasilkan solusi konkret, sehingga pekerja migran Indonesia yang saat ini tengah menunggu proses visa dapat segera diberangkatkan.

"Kami berharap ada solusi konkret dari pertemuan ini, sehingga para pekerja migran kita yang sudah menunggu dapat segera terlayani dan berangkat bekerja ke Turki secara aman dan prosedural," pungkas dia.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI