Donald Trump Ancam Iran: 48 Jam Sebelum Neraka Turun

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 05 April 2026 | 02:58 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan di Teluk Persia. Ancaman itu disampaikan melalui unggahan di platform Truth Social pada Sabtu 4 April 2026, saat pencarian terhadap seorang anggota militer AS yang hilang setelah jet tempur F-15E ditembak jatuh di Iran masih berlangsung.

Trump menyinggung penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang sudah berlangsung lebih dari 30 hari, menyebabkan harga minyak dunia melonjak dan pasar global terguncang. “Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk Membuat Perjanjian atau Membuka Selat Hormuz. Waktu hampir habis – 48 jam sebelum semua neraka akan turun menimpa mereka,” tulis Trump.

Ia menutup ancaman tersebut dengan kalimat: “Kemuliaan bagi Tuhan! Presiden Donald J. Trump.” Namun, unggahan itu menjadi sorotan karena kesalahan penulisan kata “reign” alih-alih “rain,” yang dianggap memperlemah pesan ancamannya.

Diketahui, Trump sebelumnya menyatakan AS bisa “menghancurkan total” fasilitas listrik, kilang minyak, Pulau Kharg, hingga instalasi desalinasi Iran.

Paus Leo XIV dalam pesan Minggu Palma memperingatkan para pemimpin dunia agar tidak menggunakan agama untuk membenarkan perang.

Konflik AS-Iran telah memasuki pekan keenam dengan korban lebih dari 1.900 orang di Iran, termasuk 244 anak, serta 13 anggota militer AS.

Situasi Terkini:

Satu pilot F-15E berhasil diselamatkan, sementara kru kedua masih hilang.

Media Iran menampilkan puing pesawat dan kursi lontar, serta menawarkan hadiah bagi siapa pun yang memberikan informasi tentang pilot yang hilang.

Trump mengklaim perang “sudah dimenangkan dalam satu jam pertama,” meski korban terus bertambah.

Ancaman terbaru ini semakin memperlihatkan runtuhnya harapan akan solusi diplomatik. Iran menolak pembicaraan dengan AS di Islamabad, menyebut tuntutan Washington “tidak dapat diterima.”

BERITALAINNYA
BERITATERKINI