Milisi Pro-Iran di Irak Meningkatkan Serangan, AS Peringatkan Ancaman Imminen di Baghdad

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 03 April 2026 | 05:17 WIB
Perang (Pixabay)
Perang (Pixabay)

SinPo.id -  Milisi yang didukung Iran dilaporkan semakin intensif melakukan serangan di Irak sejak dimulainya Operasi Epic Fury, karena Teheran kehilangan kendali atas kelompok-kelompok tersebut. Hal ini diungkapkan oleh seorang mantan operator pasukan khusus yang baru saja meninggalkan Baghdad, kepada The War Zone.

Ia mengatakan, “IRGC biasanya menahan mereka, menyuruh kembali ke markas dan menenangkan diri. Sekarang kepemimpinan itu hilang.”

Menurutnya, melemahnya struktur komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah membuat milisi bertindak lebih bebas. “Sekarang mereka sudah bertindak liar. Kami jelas melihat peningkatan serangan. Hasilnya adalah kekacauan di seluruh negeri,” ujarnya.

Selama bertahun-tahun, kelompok seperti Khataib Hezbollah telah menargetkan pangkalan, markas, kedutaan, dan fasilitas koalisi di Irak. Namun kini, dengan IRGC yang sibuk mempertahankan diri, kendali atas milisi semakin longgar.

Pada Kamis (2/4/2026), Kedutaan Besar AS di Baghdad memperingatkan adanya ancaman serangan dalam 24–48 jam ke depan. “Milisi teroris Irak yang berafiliasi dengan Iran mungkin berniat melakukan serangan di pusat Baghdad,” demikian peringatan resmi.

Kedutaan menambahkan, “Iran dan milisi teroris yang berafiliasi dengannya telah melakukan serangan luas terhadap warga dan target AS di seluruh Irak, termasuk di wilayah Kurdistan Irak. Mereka mungkin menargetkan warga AS, bisnis, universitas, fasilitas diplomatik, infrastruktur energi, hotel, bandara, serta institusi Irak dan target sipil.”

Serangan terbaru termasuk penggunaan drone FPV oleh Khataib Hezbollah yang menghancurkan helikopter Black Hawk dan radar pertahanan udara di sekitar Victory Base Complex dekat Bandara Internasional Baghdad.

Situasi semakin rumit dengan penculikan jurnalis AS Shelly Kittleson pada 31 Maret di Baghdad oleh kelompok bersenjata yang diduga berafiliasi dengan Iran. “Kami sangat prihatin atas penculikan Shelly Kittleson di Irak. Kami menyerukan pembebasan segera dan aman,” kata Al-Monitor dalam pernyataan resmi.

Departemen Luar Negeri AS melalui program Rewards for Justice (RFJ) menawarkan hadiah hingga 3 juta dolar AS bagi siapa pun yang memberikan informasi terkait serangan terhadap fasilitas diplomatik AS di Irak.

Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS, menegaskan, “Pasukan AS telah mengambil tindakan sebagai respons terhadap serangan milisi Irak yang didukung Iran sejak dimulainya Operasi Epic Fury. Kami tidak akan ragu melindungi rakyat kami.”

BERITALAINNYA
BERITATERKINI