Trump Diduga Sengaja Menyesatkan Staf Soal Operasi Iran karena Khawatir Bocoran

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 03 April 2026 | 04:14 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/Getty Images)

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan begitu khawatir terhadap kebocoran informasi sehingga ia sempat berbohong kepada staf mengenai pembatalan operasi militer di Iran.

AS meluncurkan Operasi Epic Fury pada 28 Februari, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta puluhan anggota kepemimpinan negara tersebut. Menurut laporan majalah Time pada Kamis 2 April 2026, Trump secara pribadi mencari jalan keluar dari konflik setelah para penasihat terdekatnya memperingatkan dampak politik yang semakin besar.

Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles, misalnya, khawatir para staf hanya mengatakan hal-hal yang ingin didengar Trump, bukan yang perlu ia ketahui tentang perasaan publik Amerika terhadap perang. Ia mendesak agar staf, “lebih jujur kepada bos.”

Dalam minggu-minggu sebelum serangan, Trump semakin waspada terhadap kebocoran. Ia dilaporkan “meledak” marah kepada staf dan melontarkan serangkaian kata-kata kasar setelah The New York Times pada 17 Februari memberitakan bahwa AS tengah mempersiapkan aksi militer di Iran.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, “Presiden sengaja melakukan pengalihan informasi di depan publik untuk melindungi misi.”

Pada 27 Februari, Trump sempat mengatakan kepada staf di ruang rapat darurat di Mar-a-Lago bahwa operasi dibatalkan. Namun, menurut laporan, itu hanyalah “head fake” karena Trump sudah memutuskan untuk menyerang malam itu juga. Setelah ruangan dikosongkan, ia memanggil kembali lingkaran kecil orang-orang yang paling ia percayai untuk mendampingi saat serangan pertama diluncurkan.

Sehari sebelumnya, Trump menyampaikan pidato nasional dan menyatakan bahwa tujuan militer AS hampir tercapai. Ia berjanji akan terus menyerang Iran setidaknya dua minggu lagi dan menyombongkan bahwa negara itu akan dikirim kembali ke “Zaman Batu.”

BERITALAINNYA
BERITATERKINI