Hidup Lagi, Perjuangan Korban Gaza Menumbuhkan Lahan

Laporan: Galuh Ratnatika
Senin, 30 Maret 2026 | 08:21 WIB
Foto: Jurnalis Gaza, Mohammad Rabah
Foto: Jurnalis Gaza, Mohammad Rabah

SinPo.id -  Di sebuah sudut sempit di depan tenda pengungsian yang pengap, di mana tanah gersang membentang tanpa ujung dan bau mesiu jadi aroma yang dihirup sehari-hari, Mohammad Nseir (44 tahun) sedang merajut kembali sisa-sisa hidupnya. Di atas puing kehancuran, ia tak sudi untuk jadi sekadar angka dalam statistik peperangan.

Mohammad, pria yang dulunya menjalani hidup tenang di Beit Hanoun, Gaza Utara, tak pernah membayangkan bahwa garis takdir akan membawanya dari ambang kematian yang paling sunyi menuju sebuah kebangkitan yang ajaib. Ia adalah lelaki yang pulang dari "dunia lain" untuk menanam harapan, meski hanya dengan satu kaki tersisa.

Tragedi di "Safe Zone"

Dengan suara tenang yang justru mempertegas kepedihan di baliknya, Mohammad mengenang awal mula horor yang menimpanya.

"Saat perang pecah, saya berada di rumah kami di Beit Hanoun. Ketika tank-tank mulai merangsek masuk, saya melarikan diri ke Rumah Sakit Indonesia. Saya pikir, rumah sakit adalah benteng terakhir yang aman," tuturnya.

Namun, Israel berbeda, seolah semua larangan adalah perintah, dan aturan perang internasional hanya guyon. Israel serang sekolah, pengungsian, tempat ibadah, situs budaya, juga rumah sakit. Rumah sakit tempat ia mengungsi diserbu. Dentuman artileri dan desing peluru menembus dinding-dinding tempat perawatan. Mohammad dan ratusan warga sipil lainnya dipaksa keluar melalui apa yang disebut tentara sebagai "jalur aman." Namun, jalur itu rupanya jalur maut.

"Saat kami berjalan keluar, jalur itu dibom. Tubuh-tubuh bertumbangan. Saya terlempar, luka saya sangat parah, dan saya tergeletak di atas aspal selama berjam-jam, bersimbah darah di antara mereka yang sudah tak bernyawa," kenang Mohammad.

Keajaiban di Balik Pintu Kulkas

Mohammad terkapar berjam-jam. Ketika relawan akhirnya berani mendekat, Mohammad dievakuasi ke Rumah Sakit Kamal Adwan. Dalam kekacauan medis di mana jumlah jenazah jauh melampaui jumlah dokter, Mohammad dinyatakan telah gugur. Tubuhnya yang dingin dan tak bergerak dimasukkan ke dalam lemari pendingin jenazah (morgue). 

"Mereka memasukkan saya ke dalam lemari pendingin jenazah karena mereka mengira saya sudah meninggal.”

Dunia seolah sudah tertutup baginya. 

"Ketika kerabat saya datang untuk mengambil jenazah saya untuk pemakaman yang layak, mereka melihat sesuatu yang mustahil. Saya gerakkan jari saya dengan sisa tenaga," ceritanya. Keajaiban kecil itu memicu kepanikan yang penuh syukur. Saudaranya segera menariknya keluar dari dinginnya lemari mayat, memanggil dokter. 

Mohammad tak sadarkan diri selama berhari-hari. Ia melewati masa kritis dalam kegelapan koma sebelum akhirnya dipindahkan ke Rumah Sakit Nasser di Gaza Selatan. Di sana, ia terbangun dengan kenyataan baru yang pahit bahwa satu kakinya harus diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya. Hingga detik ini, serpihan peluru masih bersarang di dalam perutnya, sebuah "oleh-oleh" genosida Israel. Ia tak bisa lakukan operasi sebab terlalu berisiko di tengah kekacauan fasilitas kesehatan yang serba terbatas.

Menanam di Tengah Kelaparan Besar

Bagi banyak orang, kehilangan kaki dan membawa proyektil di dalam perut adalah alasan yang cukup untuk menyerah. Namun, di tengah bencana kelaparan yang mulai mencekik Gaza, Mohammad melihat sepetak tanah berdebu di depan tendanya bukan sebagai sisa-sisa kehancuran, melainkan sebagai kanvas.

"Awalnya saya hanya mencoba. Saya menebar beberapa benih tomat di tanah yang kering ini. Tak lama kemudian, saya melihat tunas hijau kecil menyembul dari tanah. Saat itulah saya sadar: jika tanaman ini bisa berjuang untuk tumbuh, saya pun harus bisa," katanya dengan binar mata yang kuat.

Dengan support terbaik dari sang istri, Mohammad mulai mengolah tanah gersang itu. ia menggali dengan peralatan terbatas, dan dengan satu kaki, ia menyeimbangkan tubuhnya di atas kruk. Perlahan, tomat, cabai, dan terong mulai merimbun. Ruang sempit yang dulunya adalah tempat pembuangan puing kini bertransformasi menjadi oase hijau di tengah padang abu.

Perlawanan Tanpa Senjata

Tantangan yang ia hadapi tidaklah main-main. Tanpa jaringan air yang berfungsi karena telah hancur total, dan tanpa akses terhadap pupuk kimia, setiap tetes air yang ia siramkan adalah hasil perjuangan panjang.

"Masalah terbesar adalah air. Saya harus mencari cara untuk menghidupi tanaman-tanaman ini di tengah genosida. Tapi saya bersikeras. Saya tidak akan berhenti," tegasnya.

Di sebuah tempat di mana kehidupan dikepung oleh blokade dan kehancuran, Mohammad Nseir memilih jalannya sendiri untuk melawan. Ia tidak memegang senjata api, justru ia memegang benih. Ia tidak menyerah pada kecacatan fisiknya, justru ia menumbuhkan "akar-akar" baru yang memberinya alasan untuk tetap tegak berdiri.

Kisah Mohammad adalah pengingat bahwa kemanusiaan memiliki daya tahan yang tak masuk akal. Dari dinginnya kamar mayat, ia kembali untuk membuktikan bahwa selama masih ada tangan untuk menanam dan satu benih untuk ditebar, kehidupan di Gaza tak akan bisa dipadamkan.

Ditulis oleh Jurnalis Gaza, Mohammad Rabah

 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI