Trump Sebut Selat Hormuz sebagai ‘Selat Trump’ dalam Pidato di Miami

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 29 Maret 2026 | 04:02 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/AP)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/AP)

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial dengan menyebut Selat Hormuz sebagai “Strait of Trump” atau '"Selat Trump" dalam pidato bertajuk peacemaker speech di Miami. Trump menegaskan keinginannya untuk menguasai jalur vital perdagangan dunia itu setelah menuduh Iran melakukan pemerasan terhadap AS.

“Kami sedang bernegosiasi sekarang, dan akan bagus jika bisa mencapai sesuatu. Tapi mereka harus membuka Selat itu. Mereka harus membuka Selat Trump — maksud saya, Hormuz,” ucap Trump dengan nada sarkastis. Ia menambahkan, “Tidak ada kesalahan dengan saya, kalaupun ada, itu akan jadi berita besar.”

Trump juga mengeluhkan kegagalannya meraih Nobel Perdamaian tahun lalu. “Jika saya tidak mendapat Nobel Perdamaian, maka tidak ada yang pantas mendapatkannya. Saya tidak dapat, dan saya tidak terkejut. Orang yang mendapatkannya bahkan terkejut,” katanya.

Seorang pejabat senior pemerintahan menyebut rencana Trump adalah “mengambil kembali Selat Hormuz” agar AS tidak lagi bisa diperas oleh Iran. “Jika kita yang menjaga, mengamankan, dan memastikan keselamatan jalur itu, kenapa tetap disebut Hormuz? Kenapa tidak kita sebut Selat Amerika?” ujarnya.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur sempit yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dunia, menjadikannya titik krusial bagi perdagangan dan keamanan energi global. Namun, kritik menilai pernyataan Trump justru berpotensi memperburuk ketegangan di Timur Tengah.

Konflik AS-Israel melawan Iran sejak 28 Februari telah menewaskan lebih dari 1.900 orang dan melukai hampir 25.000 lainnya. Trump bersikeras bahwa operasi militer dilakukan untuk menghentikan ancaman Iran dan mencegah pengembangan senjata nuklir. Ia bahkan menegaskan, “Jika Iran menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam Amerika Serikat 20 kali lebih keras daripada yang sudah mereka alami.”

BERITALAINNYA
BERITATERKINI