Dokter Muda Meninggal Akibat Campak, Pakar Ingatkan Risiko Penyakit pada Orang Dewasa
SinPo.id - Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Aditama, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya seorang dokter muda lulusan Universitas Indonesia (UI), AMW (26), karena campak disertai dengan Pneumonia pada Kamis kemarin. AMW sedang bertugas sebagai dokter internship di RSUD Cimacan, Cianjur, Jawa Barat.
"Kita amat sedih dan berduka dengan wafatnya sejawat dokter di usia yang amat muda ini. Penyakit campak masih menjadi masalah kesehatan penting di negara kita, demikian juga beberapa penyakit menular lain," kata Prof Tjandra dalam keterangannya, Jumat, 27 Maret 2026.
Tjandra mengaku sudah berulang kali mengingatkan bahwa Indonesia memegang peringkat ke dua kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di dunia. "Perlu kerja sangat keras untuk melindungi masyarakat dari ancaman campak dan berbagai penyakit menular lainnya," ujarnya.
Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara 2018-2020 itu menjelaskan, campak dengan pneumonia pada orang dewasa, merupakan penyakit berat dan punya komplikasi fatal, serta mematikan.
Kejadian pneumonia berat merupakan penyebab kematian utama pada infeksi virus campak. Kondisi ini biasanya ditandai gejala, antara lain demam tinggi, radang paru dan gagal napas.
Menurutnya, pengobatan pada kasus campak, biasanya masih bersifat suportif, seperti pemberian oksigen, dosis tinggi Vitamin A.
"Ada memang di luar negeri yang pernah memberikan juga obat anti viral Ribavirin, tetapi hasilnya belum punya dasar ilmiah yang kuat," ujarnya.
Lebih lanjut, mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kemenkes ini juga menyoroti vaksinasi campak pada orang dewasa yang perlu diperhatikan pemerintah. Hal ini berdasarkan laman Center of Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.
CDC menyampaikan, prioritas vaksinasi campak mencakup petugas kesehatan, orang bepergian ke daerah yang sedang mewabah campak dan atau kelompok khusus lainnya.
"Pada umumnya, vaksin campak pada dewasa dapat diberikan satu dosis, walaupun pada keadaan tertentu perlu dua dosis, tergantung faktor risiko yang ada," ucapnya.
Tak lupa, Tjandra yang merupakan Alumni FKUI 1980 ini, menyampaikan, meninggalkannya AMW, bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi juga komunitas medis, termasuk para guru besar dan alumni FKUI.
"Untuk saya, jadi lebih berduka lagi. Karena almarhum adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sehingga teman-teman saya para Guru Besar FKUI dan teman sesama Ikatan Alumi FKUI amatlah berduka," tutupnya.

