Gedung Putih Ajukan Tambahan Dana Rp3.000 Triliun untuk Perang Iran, Trump: Konflik Sangat Tidak Stabil

Laporan: Tim Redaksi
Jumat, 20 Maret 2026 | 05:00 WIB
Presiden AS, Donald Trump (SinPo.id/Tim Media)
Presiden AS, Donald Trump (SinPo.id/Tim Media)

SinPo.id -  Pemerintahan Presiden Donald Trump mengajukan tambahan anggaran sebesar 200 miliar dolar AS (sekitar Rp3.000 triliun) kepada Kongres untuk mendanai operasi militer dalam perang melawan Iran.

Permintaan tersebut diajukan oleh Gedung Putih setelah Departemen Pertahanan menilai kebutuhan anggaran meningkat seiring eskalasi konflik yang masih berlangsung.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, tidak secara langsung mengonfirmasi angka tersebut, namun menegaskan pentingnya dukungan dana untuk operasi militer.

“Perlu uang untuk menghadapi musuh,” ujarnya kepada wartawan.

Trump: Perang Sangat Dinamis

Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump menjelaskan bahwa permintaan dana besar tersebut didasarkan pada berbagai faktor, termasuk kebutuhan perlengkapan militer dan amunisi.

“Ini perang yang sangat tidak stabil. Kami mengajukan anggaran ini karena banyak alasan, termasuk untuk memastikan persediaan amunisi yang cukup,” kata Trump.

Ia juga menyinggung bahwa stok amunisi AS sempat berkurang akibat bantuan besar yang diberikan kepada Ukraina dalam konflik melawan Rusia.

Tambahan di Luar Anggaran Tahunan

Permintaan 200 miliar dolar AS ini diajukan di luar anggaran tahunan Departemen Pertahanan yang sebelumnya telah disetujui sebesar 838,7 miliar dolar AS.

Pejabat ekonomi Gedung Putih menyebut biaya perang Iran sejauh ini telah mencapai sekitar 12 miliar dolar AS.

Hegseth menambahkan bahwa tambahan dana diperlukan tidak hanya untuk operasi saat ini, tetapi juga untuk mengantisipasi kebutuhan di masa depan.

“Pendanaan ini akan memastikan kita siap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi ke depan,” ujarnya.

Potensi Perdebatan Politik

Pengajuan anggaran besar ini diperkirakan akan memicu perdebatan sengit di Kongres, terutama menjelang pemilu paruh waktu.

Ketua DPR AS, Mike Johnson, menyatakan angka tersebut bukan tanpa perhitungan dan menegaskan pentingnya pendanaan pertahanan di tengah situasi global yang berbahaya.

Namun, dari kubu Demokrat, Jim Himes mengingatkan agar pemerintah transparan sejak awal terkait kebutuhan anggaran tersebut.

Dampak Ekonomi Mulai Terasa

Perang Iran juga mulai berdampak pada ekonomi AS, termasuk meningkatnya harga minyak yang memicu ketidakpastian dan tekanan inflasi.

Bank sentral AS bahkan memilih menahan suku bunga untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari konflik.

Meski pendanaan militer biasanya mendapat dukungan bipartisan, survei menunjukkan mayoritas publik AS tidak menyetujui perang ini.

Jika konflik berkepanjangan, tambahan anggaran besar ini berpotensi menjadi beban politik bagi pemerintahan Trump di tengah dinamika ekonomi dan keamanan global yang semakin kompleks.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI