Negara Teluk Desak AS Lumpuhkan Iran Sepenuhnya, Tapi Enggan Terlibat Perang Langsung
SinPo.id - Negara-negara kawasan Teluk dilaporkan tidak meminta Amerika Serikat untuk memulai perang melawan Iran. Namun kini, mereka justru mendesak agar Washington tidak menghentikan operasi militer sebelum kemampuan ofensif Iran benar-benar dilemahkan.
Sejumlah sumber Teluk dan diplomat Barat serta Arab menyebut, kekhawatiran utama adalah jika Iran masih memiliki kekuatan militer signifikan, maka ancaman terhadap jalur minyak strategis kawasan akan terus berlanjut.
Ketua Gulf Research Center, Abdulaziz Sager, menilai situasi telah berubah drastis.
“Ada perasaan luas di kawasan Teluk bahwa Iran telah melanggar semua batas terhadap negara-negara Teluk. Awalnya kami membela dan menolak perang, tetapi setelah mereka menyerang kami, mereka menjadi musuh,” ujarnya.
Tekanan AS untuk Dukungan Regional
Di sisi lain, laporan menyebut Donald Trump mendorong negara-negara Teluk untuk bergabung dalam operasi militer bersama AS dan Israel.
Langkah ini dinilai bertujuan untuk menunjukkan dukungan regional demi memperkuat legitimasi internasional sekaligus dukungan domestik di AS.
Namun, hingga kini negara-negara Teluk masih menahan diri untuk tidak terlibat langsung dalam konflik bersenjata.
Ancaman Serius ke Infrastruktur Energi
Iran disebut telah menunjukkan jangkauan serangannya dengan menargetkan bandara, pelabuhan, fasilitas minyak, hingga pusat ekonomi di kawasan Teluk menggunakan rudal dan drone.
Selain itu, gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz semakin memperkuat kekhawatiran global. Jalur ini merupakan arteri vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Serangan-serangan tersebut tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi dan citra keamanan kawasan yang selama ini menjadi andalan pengembangan perdagangan dan pariwisata.
Dilema Negara Teluk
Meski mendesak AS bertindak tegas, negara-negara Teluk menghadapi dilema besar. Terlibat langsung dalam perang berisiko memicu serangan balasan dari Iran.
Enam negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) yakni Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Uni Emirat Arab, hingga kini belum mencapai konsensus untuk aksi militer bersama.
Seorang pejabat senior Uni Emirat Arab menegaskan negaranya tidak ingin terseret dalam konflik, meski tetap siap mengambil langkah untuk melindungi kedaulatan dan keamanan nasional.
Risiko Eskalasi Lebih Luas
Para analis menilai negara-negara Teluk kini berada dalam posisi sulit: menghadapi ancaman langsung dari Iran, namun juga berisiko terseret dalam perang besar yang tidak mereka mulai.
Profesor hubungan internasional dari London School of Economics, Fawaz Gerges, menyebut langkah paling realistis saat ini adalah menahan diri sambil tetap menjaga garis merah keamanan.
Sementara itu, pengamat dari Princeton University, Bernard Haykel, memperingatkan bahwa kemampuan Iran mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi ancaman jangka panjang.
“Sekarang Iran telah menunjukkan bisa menutup Selat Hormuz, kawasan Teluk menghadapi ancaman yang benar-benar berbeda,” ujarnya.
Dengan situasi yang terus memanas, negara-negara Teluk kini berharap AS dapat melemahkan Iran secara signifikan tanpa memicu konflik yang lebih luas dan tidak terkendali.

