Pramono Dorong Revitalisasi Tradisi Betawi

Laporan: Sigit Nuryadin
Rabu, 18 Maret 2026 | 19:42 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (SinPo.id/ Dok. Pemprov DKI)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (SinPo.id/ Dok. Pemprov DKI)

SinPo.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan pentingnya pelestarian budaya lokal di tengah transformasi Jakarta sebagai kota global. Hal itu disampaikan saat menghadiri tradisi Andilan Kebo yang digelar Majelis Kaum Betawi di Puskeswan Pondok Rangon, Rabu, 18 Maret 2026.

Menurut Pramono, tradisi Andilan Potong Kebo bukan sekadar ritual tahunan, melainkan representasi nilai sosial masyarakat Betawi yang perlu terus dihidupkan, terutama bagi generasi muda.

“Tradisi Andilan Potong Kebo merupakan warisan budaya Betawi yang sarat makna kebersamaan dan persaudaraan. Tradisi ini juga menjadi bagian dari rangkaian Lebaran Betawi dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri,” ujar Pramono dalam sambutannya.

Dia menilai, keberlanjutan tradisi seperti Andilan menjadi krusial di tengah perubahan wajah Jakarta yang semakin modern. Pemerintah daerah, kata dia, berkepentingan memastikan identitas budaya tidak tergerus oleh pembangunan.

“Saya menyambut baik upaya untuk menghidupkan kembali tradisi ini. Tujuannya agar generasi muda tetap mengenal dan mewarisi nilai-nilai kebersamaan tersebut,” katanya.

Pramono menambahkan, tradisi ini juga mencerminkan nilai gotong royong, toleransi, serta kepedulian sosial yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Betawi. 

Selain itu, lanjutnya, penyembelihan kerbau dalam tradisi tersebut disebut sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan ternak yang memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat.

Dia menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendukung pelestarian budaya Betawi tidak hanya sebagai simbol identitas, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pembangunan.

“Di tengah transformasi Jakarta sebagai kota global, kita ingin memastikan budaya Betawi tetap hidup dan berkembang, menjadi identitas serta jati diri yang membanggakan bagi masyarakat kota ini,” ujarnya.

Pramono juga mengaitkan pelestarian budaya dengan dampak ekonomi dan sosial. Menurut dia, tradisi lokal berpotensi memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kohesi sosial di tengah keberagaman kota.

“Pelestarian tradisi tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata dia.

Dia pun mengajak masyarakat untuk terus merawat tradisi sebagai bagian dari upaya menjaga Jakarta tetap inklusif dan berbudaya menjelang perayaan Idulfitri.

“Mari kita merawat tradisi Betawi, menjaga kebersamaan, kerukunan, serta memperkuat persaudaraan agar Jakarta tetap menjadi kota yang ramah, berbudaya, dan membanggakan bagi semua,” tutur Pramono.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI