Konflik Timur Tengah Memanas, Iran Tegaskan Tak Pernah Minta Gencatan Senjata

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 16 Maret 2026 | 03:16 WIB
IRAN
IRAN

SinPo.id -  Konflik di Timur Tengah terus berlanjut tanpa tanda-tanda mereda. Israel pada Minggu (15/3/2026) mengumumkan serangan baru ke wilayah barat Iran, sementara Menteri Luar Negeri Iran menegaskan pihaknya tidak pernah meminta gencatan senjata, berbeda dengan klaim Presiden AS Donald Trump.

Di Teheran, Garda Revolusi Iran berjanji akan “mengejar” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan “membunuhnya,” menurut laporan kantor berita Mehr.

Sementara itu, Trump dalam wawancara dengan NBC News mengatakan ia tidak yakin apakah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, masih hidup. “Sejauh ini tidak ada yang bisa menunjukkannya,” ujar Trump. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menyebut Khamenei terluka setelah serangan Israel menewaskan ayahnya di awal perang.

Trump juga mengklaim beberapa sekutu AS telah merespons seruannya untuk membantu menjaga jalur vital ekonomi, Selat Hormuz, meski hingga kini belum ada negara yang secara terbuka menyatakan dukungan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah klaim Trump.

“Tidak, kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami tidak pernah meminta bahkan untuk bernegosiasi. Kami siap membela diri selama diperlukan,” kata Araghchi kepada CBS News Face the Nation.

Israel Defense Forces (IDF) menyatakan telah melancarkan gelombang serangan besar terhadap infrastruktur Iran di wilayah barat, serta menghantam target Hezbollah di Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 850 orang tewas dan lebih dari 2.000 terluka sejak perang dimulai.

Di sisi lain, Paus Leo XIV menyerukan penghentian kekerasan.

“Atas nama umat Kristiani di Timur Tengah dan semua orang berkehendak baik, hentikan tembakan! Biarkan jalur dialog dibuka kembali,” tegas Paus dalam pernyataan Vatikan.

Sementara itu, Departemen Pertahanan AS mengidentifikasi enam anggota militer yang tewas akibat jatuhnya pesawat pengisi bahan bakar KC-135 di Irak Barat pada 12 Maret. Pentagon menyebut insiden itu bukan akibat tembakan musuh maupun kawan, meski kelompok proksi Iran mengklaim bertanggung jawab.

Konflik ini juga berdampak pada harga energi global yang melonjak tajam, karena Iran memblokir jalur pelayaran di Selat Hormuz, tempat hampir 20 persen pasokan minyak dunia biasanya melintas.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI