'Panic Buying' BBM, Legislator Dorong Pembangunan Storage Strategis di Berbagai Wilayah

Laporan: Galuh Ratnatika
Senin, 09 Maret 2026 | 08:37 WIB
Ilustrasi pengendara motor mengisi BBM subsidi di SPBU. (SinPo.id/Agus Priatna)
Ilustrasi pengendara motor mengisi BBM subsidi di SPBU. (SinPo.id/Agus Priatna)

SinPo.id - Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Ateng Sutisna, menyoroti fenomena panic buying bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah, setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan stok BBM hanya tersisa untuk 20 hari.

Merespons hal itu, Komisi XII DPR RI mendorong kebijakan strategis yang memastikan adanya ketersediaan cadangan minimum BBM nasional dengan pembangunan storage strategis di berbagai wilayah, pemanfaatan digitalisasi pengawasan rantai pasok, serta sinkronisasi pembangunan kilang.

"Kita perlu mendorong kebijakan nasional yang memastikan adanya cadangan minimum BBM di dalam negeri," kata Ateng, dalam keterangan persnya, dikutip Senin, 9 Maret 2026.

"Seperti pembangunan storage strategis per wilayah, pemanfaatan bersama infrastruktur penyimpanan dan pengangkutan, digitalisasi pengawasan rantai pasok secara real-time, serta sinkronisasi pembangunan kilang dengan infrastruktur logistik hilir, khususnya untuk wilayah 3T dan daerah rawan bencana,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, Indonesia sebenarnya telah memiliki jaringan distribusi BBM yang sangat luas, namun belum sepenuhnya ditopang oleh cadangan wilayah, storage strategis, serta desain logistik yang cukup redundan bagi negara kepulauan yang memiliki tingkat kerentanan geografis tinggi.

Padahal, Jepang yang secara geografis juga merupakan negara kepulauan dan memiliki ketergantungan impor energi yang tinggi mampu membangun cadangan BBM strategis hingga mencapai sekitar 254 hari.

“Kesenjangan ini membuat posisi menjadi lebih rentan secara geopolitik dan geoekonomi apabila dihadapkan pada skenario terburuk, misalnya gangguan rantai pasok global atau bahkan blokade,” jelasnya.

Selain itu, kata Ateng, sistem pengelolaan pasokan BBM nasional memang tidak dirancang sebagai penyimpanan statis, melainkan sebagai ekosistem inventaris yang sangat dinamis dan terus bergerak.

Oleh sebab itu, pihaknya menegaskan bahwa kebijakan energi nasional ke depan perlu difokuskan agar berorientasi pada ketahanan energi jangka panjang, mengingat tingkat konsumsi energi harian masyarakat Indonesia sangat besar.

"Fokusnya ada tiga sasaran, yaitu menambah kapasitas storage BBM nasional, memperkuat resiliensi logistik energi, serta membangun tata kelola stok energi nasional yang lebih disiplin dan terukur," tandasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI