Stok BBM Terbatas, DPR Ingatkan Masyarakat Tak Panic Buying

Laporan: Galuh Ratnatika
Minggu, 08 Maret 2026 | 14:15 WIB
Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel (SinPo.id/DPR)
Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel (SinPo.id/DPR)

SinPo.id - Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, menyoroti pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil lahadalia, yang menyebut stok BBM (bahan bakar minyak) dalam negeri hanya untuk 21 hari.

Menurutnya hal itu menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat sistem ketahanan energi nasional ke depan. Termasuk mengambil berbagai langkah strategis lainnya untuk menyiasati kondisi yang ada.

“Yang paling penting, menurut saya adalah pemerintah, termasuk PLN dan Pertamina, harus mengambil langkah strategis," kata Gobel, dalam keterangan persnya, dikutip Minggu, 8 Maret 2026.

"Ini menjadi pengalaman penting bagi kita untuk melihat apa yang masih kurang dan apa pekerjaan rumah yang harus segera kita selesaikan,” imbuhnya.

Pihaknya juga meminta pemerintah percepat investasi di sektor energi, khususnya pada sektor pengolahan energi seperti kilang (refinery) dan pengembangan energi baru terbarukan, agar berbagai proyek strategis di sektor energi dapat berjalan lebih cepat.

Di samping itu, Gobel mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying BBM. Karena hal itu akan memperburuk kondisi yang ada. Ia pun berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam penggunaan energi.

“Dalam hal Ini perlu edukasi tidak hanya dari pemerintah, namun juga seluruh elemen bangsa kepada masyarakat untuk tidak panic buying dengan melakukan pembelian berlebih atau bahkan penimbunan BBM yang justru akan memperparah kondisi di lapangan," ungkapnya.

"Sekali lagi ini pembelajaran bagi kita semua. Sebagai negara besar, kita harus memperkuat sistem energi kita agar lebih tangguh dan tidak mudah terpengaruh oleh dinamika global,” kata Gobel menambahkan.

Meski demikian, ia menilai pernyataan Bahlil tersebut sebagai bentuk keterbukaan dari pemerintah akan mengenai kondisi cadangan energi nasional untuk membangun kepercayaan publik, sekaligus momen pembelajaran bagi pemerintah dan masyarakat.

“Kita harus terbuka kepada masyarakat mengenai kondisi yang ada. Di saat yang sama, masyarakat juga perlu diajak untuk menyikapi situasi ini dengan bijak, misalnya dengan mulai berhemat dalam penggunaan energi,” tandasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI