Home /

Donald Trump Tuntut Iran Menyerah Tanpa Syarat di Tengah Perang dengan Israel

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 07 Maret 2026 | 03:40 WIB
Presiden AS, Donald Trump (SinPo.id/Tim media)
Presiden AS, Donald Trump (SinPo.id/Tim media)

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuntut Iran untuk menyerah tanpa syarat di tengah perang yang berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui media sosial pada Jumat, sekitar sepekan setelah konflik besar pecah di kawasan Timur Tengah.

“Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali PENYERAHAN TANPA SYARAT!” tulis Trump dalam unggahannya.

Pernyataan keras itu muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkapkan bahwa sejumlah negara telah mulai melakukan upaya mediasi untuk menghentikan konflik yang semakin meluas.

Trump menyatakan bahwa setelah Iran menyerah, proses selanjutnya adalah memilih pemimpin baru yang dianggap dapat diterima oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Menurutnya, negara-negara sekutu akan membantu membangun kembali Iran secara ekonomi.

“Setelah itu, dengan pemilihan pemimpin yang hebat dan dapat diterima, kami bersama sekutu akan bekerja tanpa lelah untuk membawa Iran kembali dari ambang kehancuran,” ujar Trump.

Pasar Global Terguncang

Tuntutan penyerahan tanpa syarat tersebut langsung mengguncang pasar keuangan global. Bursa saham di Eropa dilaporkan mengalami penurunan tajam setelah pernyataan Trump muncul, sementara pasar saham di Amerika Serikat juga dibuka melemah.

Para analis menilai tuntutan tersebut berpotensi mempersulit proses negosiasi damai dan memperpanjang konflik yang sudah mengganggu pasokan energi global.

Israel Perluas Serangan ke Lebanon

Di lapangan, militer Israel memperluas operasi militernya hingga ke ibu kota Lebanon, Beirut. Serangan udara besar-besaran dilakukan setelah militer Israel memerintahkan evakuasi massal di wilayah pinggiran selatan kota tersebut.

Militer Israel menyebut sekitar 50 pesawat tempur telah menyerang bunker yang diduga masih digunakan oleh pimpinan Iran di bawah kompleks yang sebelumnya menjadi lokasi kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Serangan tersebut juga memicu gelombang pengungsian besar di Beirut. Warga dilaporkan terpaksa tidur di jalanan setelah meninggalkan rumah mereka akibat serangan udara yang terus berlangsung.

Iran Tegaskan Tetap Membela Negara

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tetap berkomitmen pada perdamaian, namun tidak akan ragu mempertahankan kedaulatan dan martabat nasional.

“Beberapa negara telah memulai upaya mediasi. Kami berkomitmen pada perdamaian yang berkelanjutan, tetapi tidak akan ragu mempertahankan martabat negara kami,” tulisnya dalam pernyataan di media sosial.

Di tengah konflik tersebut, Iran juga tengah menjalankan proses internal untuk menentukan pemimpin baru setelah tewasnya Ali Khamenei pada hari pertama perang.

Korban Terus Bertambah

Konflik yang dimulai pada 28 Februari itu telah menelan banyak korban jiwa. Data dari Iranian Red Crescent Societymenyebutkan sedikitnya 1.230 orang tewas di Iran akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel.

Di Lebanon, Kementerian Kesehatan setempat melaporkan 123 orang tewas dan 683 lainnya terluka akibat serangan Israel. Sementara itu, sedikitnya 10 warga Israel juga dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran.

Perang yang melibatkan beberapa negara di kawasan Timur Tengah ini terus meningkatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan, pasokan energi, dan potensi eskalasi konflik yang lebih luas.

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI