Home /

Perang Timur Tengah Lumpuhkan Penerbangan: Hampir 14 Ribu Penerbangan Dibatalkan

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 07 Maret 2026 | 03:32 WIB
Pesawat (pixabay)
Pesawat (pixabay)

SinPo.id -  Perang yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah menyebabkan gangguan besar pada sektor penerbangan internasional. Ratusan ribu pelancong dilaporkan terjebak setelah ribuan penerbangan dibatalkan sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Data dari Flightradar24 menunjukkan hampir 14.000 penerbangan yang dijadwalkan berangkat dari bandara besar di 10 negara terpaksa dibatalkan sejak konflik tersebut dimulai.

Data penerbangan juga memperlihatkan kondisi langit Timur Tengah yang biasanya padat kini tampak hampir kosong. Sejumlah bandara di kawasan Teluk Persia bahkan menghentikan operasi normal mereka.

Hingga 6 Maret, setidaknya 10 negara tercatat telah menutup wilayah udara mereka secara total maupun sebagian sebagai dampak meningkatnya konflik.

Salah satu yang paling terdampak adalah Dubai International Airport di Uni Emirat Arab, salah satu hub penerbangan tersibuk di dunia yang menghubungkan sekitar 291 destinasi internasional.

Sejak 28 Februari, sekitar 85 persen jadwal penerbangan di bandara tersebut terpaksa dibatalkan. Sebelumnya, pada Februari saja, bandara itu melayani sekitar 4,9 juta kursi penumpang menurut data dari Official Aviation Guide.

Pembatalan penerbangan juga terjadi dalam skala besar di sejumlah bandara lain di kawasan. Sekitar 90 persen penerbangan dari Sharjah, emirat yang berbatasan dengan Dubai, dibatalkan. Sementara di Doha, Qatar, sekitar 94 persen penerbangan turut dibatalkan.

Meski situasi keamanan masih tidak menentu, beberapa bandara mulai kembali membuka penerbangan secara terbatas sejak Rabu. Di antaranya adalah bandara di Dubai, Abu Dhabi, serta King Khalid International Airport di dekat Riyadh, Arab Saudi.

Gangguan penerbangan ini juga berdampak pada warga asing yang berada di kawasan Teluk. Pemerintah Inggrismenyebut lebih dari 300.000 warga negaranya tinggal atau sedang transit di negara-negara Teluk.

Sementara itu, US Department of State menyatakan lebih dari 17.500 warga Amerika telah berhasil kembali ke Amerika Serikat dari kawasan Timur Tengah sejak 28 Februari.

Para analis menilai gangguan penerbangan ini berpotensi menjadi salah satu dampak ekonomi paling signifikan dari konflik regional, terutama karena Timur Tengah merupakan jalur utama penerbangan internasional yang menghubungkan Eropa, Asia, dan Afrika. 

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI