Iran Klaim Serangan ke Basis Militer AS di Bahrain Tewaskan dan Lukai Banyak Tentara
SinPo.id - Militer Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap posisi militer Amerika Serikat di Bahrain yang mengakibatkan banyak korban tewas dan luka di pihak pasukan AS.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh markas pusat angkatan bersenjata Iran, Khatam al‑Anbia Central Headquarters, yang memegang komando operasional militer Iran saat perang. Informasi itu disiarkan oleh media penyiaran resmi pemerintah Iran.
Dalam pernyataannya, markas militer tersebut menyebut serangan yang menargetkan posisi militer Amerika di Bahrain berhasil menimbulkan “sejumlah besar korban tewas dan luka-luka.” Namun pihak Iran belum merinci jumlah pasti korban dalam operasi tersebut.
“Rincian operasi akan diumumkan kemudian,” demikian pernyataan yang disampaikan melalui media pemerintah Iran.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Iran kemudian membalas dengan serangkaian serangan rudal dan drone ke berbagai target yang terkait dengan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Teluk.
Salah satu target utama Iran adalah fasilitas militer Amerika di Bahrain, yang menjadi lokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat. Pangkalan tersebut merupakan salah satu pusat operasi penting AS di kawasan Teluk Persia.
Meski Iran mengklaim terdapat banyak korban di pihak Amerika, laporan awal dari otoritas militer Amerika sebelumnya menyebutkan bahwa serangan terhadap fasilitas militer di Bahrain hanya menyebabkan kerusakan terbatas dan tidak menimbulkan korban di pihak AS.
Perbedaan klaim antara kedua pihak ini menambah ketidakpastian mengenai kondisi sebenarnya di lapangan. Hingga kini belum ada konfirmasi resmi terbaru dari pemerintah Amerika Serikat terkait laporan korban yang diklaim oleh Iran.
Konflik yang terus meningkat di Timur Tengah juga memicu kekhawatiran global, karena serangan dan balasan militer telah meluas ke sejumlah negara di kawasan Teluk, termasuk Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi.
Situasi keamanan di kawasan tersebut kini masih sangat tegang, sementara berbagai negara menyerukan deeskalasi untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
