Home /

HIPMI Minta Pemerintah Tangani Jemaah Umrah Tertahan Dampak Konflik Timur Tengah

Laporan: Tio Pirnando
Kamis, 05 Maret 2026 | 10:15 WIB
Jemaah umrah asal Indonesia (SinPo.id/ dok. Kemenhaj)
Jemaah umrah asal Indonesia (SinPo.id/ dok. Kemenhaj)

SinPo.id - 

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) meminta pemerintah untuk mengambil langkah progresif menyelamatkan jemaah umrah asal Indonesia banyak yang tertahan belum bisa kembali ke tanah air. Hal itu disebabkan eskalasi di Timur Tengah memicu  pembatasan dan penghentian sejumlah penerbangan internasional. 

"Kami sampai saat ini belum melihat langkah-langkah yang benar-benar konkret dan progresif untuk menangani situasi ini. Jika tidak segera ditangani dengan cepat dan terkoordinasi, jumlah jemaah yang tertahan akan semakin banyak dan biaya yang harus ditanggung juga akan semakin membengkak," kata Sekretaris Jenderal BPP HIPMI, Anggawira, dalam keterangannya, Kamis, 5 Maret 2026. 

Berdasarkan berbagai laporan dari penyelenggara perjalanan umrah dan komunitas jemaah, diperkirakan sekitar 54 ribu jemaah saat ini berada di Tanah Suci dan berpotensi terdampak oleh gangguan penerbangan akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Menurut Anggawira, kondisi ini menjadi semakin berat karena terjadi pada bulan Ramadan. Di mana tingkat okupansi hotel di Makkah dan Madinah meningkat signifikan sehingga harga akomodasi juga relatif lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan biasa.

"Jika keterlambatan pemulangan ini berlarut-larut, biaya tambahan untuk hotel, konsumsi, dan kebutuhan jamaah tentu akan terus meningkat. Dalam kondisi seperti ini jangan sampai seluruh beban biaya tambahan justru harus ditanggung sendiri oleh jamaah," ucapnya.

HIPMI juga menyoroti lonjakan harga tiket penerbangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan pada aplikasi pemesanan tiket, harga tiket penerbangan one way rute Jeddah–Jakarta kelas ekonomi maskapai Garuda Indonesia yang dalam kondisi normal berkisar di angka Rp7–8 juta, saat ini pada beberapa jadwal melonjak hingga mencapai sekitar Rp18–20 juta per tiket.

Lonjakan harga tersebut dinilai berpotensi memberatkan jamaah jika tidak segera ada langkah pengaturan dan pengawasan dari pemerintah.

HIPMI mendorong pemerintah untuk segera berkoordinasi dengan maskapai nasional seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batik Air agar dapat membantu melalui penambahan jadwal penerbangan atau penyediaan extra flight guna mempercepat pemulangan jamaah Indonesia yang tertahan.

Selain itu, pemerintah juga perlu menetapkan batas harga tiket dalam kondisi darurat serta memperkuat pengawasan agar tidak terjadi praktik spekulasi harga yang merugikan jamaah.

Lebih jauh, HIPMI menilai, kejadian ini harus menjadi pelajaran penting dalam tata kelola perjalanan ibadah umrah ke depan. Perlu ada skema perlindungan yang lebih kuat, termasuk komponen asuransi perjalanan yang dapat meng-cover kondisi force majeure seperti konflik geopolitik, penutupan wilayah udara, maupun gangguan operasional penerbangan internasional.

"Indonesia merupakan negara dengan jumlah jamaah umrah terbesar di dunia dengan lebih dari 1,5 juta jamaah setiap tahun. Karena itu sistem mitigasi krisis bagi jamaah harus dipersiapkan dengan lebih matang agar dalam situasi darurat seperti ini negara dapat hadir memberikan perlindungan yang maksimal," tutupnya.

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI