Home /

OPEC+ Naikkan Produksi Minyak di Tengah Memanasnya Konflik AS-Israel vs Iran

Laporan: Galuh Ratnatika
Senin, 02 Maret 2026 | 08:14 WIB
Ilustrasi tangker minyak (SinPo.id/tim media)
Ilustrasi tangker minyak (SinPo.id/tim media)

SinPo.id - Delapan negara yang tergabung dalam OPEC+ mengumumkan akan meningkatkan produksi minyak mentah setelah pasukan Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran.

Pasalnya, serangan balasan Iran terhadap Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara Timur Tengah telah mengganggu pengiriman minyak dari kawasan tersebut.

Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), telah berencana meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari pada bulan April, yang lebih banyak dari perkiraan analis.

Adapun negara-negara yang meningkatkan produksi termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. Namun, sulitnya mengekspor minyak akibat perang, berpotensi menaikkan harga minyak mentah.

Karena sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari atau sekitar 20 persen dari minyak dunia, dikirim melalui Selat Hormuz, yang menjadikannya titik hambatan minyak paling penting di dunia.

Sementara Iran telah menutup sebagian selat tersebut pada pertengahan Februari untuk latihan militer, dan gangguan berkepanjangan pada jalur pelayaran tersebut dapat menyebabkan penurunan pasokan dan kenaikan harga minyak.

“Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan dunia, yang berarti pasar lebih memperhatikan apakah barel minyak dapat bergerak daripada kapasitas cadangan di atas kertas,” kata Jorge León, wakil presiden senior dan kepala analisis geopolitik Rystad, dilansir dari AP, Senin, 2 Maret 2026.

“Jika aliran melalui Teluk dibatasi, produksi tambahan hanya akan memberikan bantuan langsung yang terbatas, karena akses ke jalur ekspor jauh lebih penting daripada target produksi utama," imbuhnya.

Iran sendiri mengekspor sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sebagian besar ke China. Sehingga China perlu mencari pasokan di tempat lain jika ekspor Iran terganggu.

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI