Kedubes Iran Apresiasi Niat Prabowo Jadi Mediator, Minta Indonesia Tegas Kecam AS-Israel
SinPo.id - Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia menyampaikan apresiasi atas kesiapan Presiden RI Prabowo Subianto untuk menjadi mediator dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang turut melibatkan Israel. Namun, Kedubes Iran juga meminta pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas dalam mengecam agresi yang disebut dilakukan oleh AS dan Israel.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis di Jakarta, Minggu 1 Maret 2026, Kedubes Iran menyampaikan terima kasih atas dukungan konsisten Pemerintah dan rakyat Indonesia, sekaligus menyambut kesiapan Presiden RI untuk memfasilitasi dialog demi meredakan ketegangan di Timur Tengah.
“Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia menyampaikan apresiasi atas dukungan konsisten Pemerintah dan rakyat Indonesia serta menyambut kesiapan Presiden Republik Indonesia untuk melakukan mediasi dalam konflik ini,” demikian pernyataan tersebut.
Meski demikian, pihak Kedubes menegaskan pentingnya sikap tegas para pejabat Indonesia dalam mengutuk apa yang mereka sebut sebagai agresi dan pelanggaran hukum internasional oleh AS dan Israel.
Sikap Pemerintah Indonesia
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyatakan keprihatinan mendalam atas gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada meningkatnya eskalasi militer di kawasan.
“Indonesia sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah,” tulis Kemlu RI melalui akun resminya, Sabtu 28 Februari 2026
Kemlu juga menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri, mengedepankan dialog dan diplomasi, serta menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara.
Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog apabila disetujui kedua belah pihak. Bahkan, Presiden Prabowo disebut bersedia bertolak ke Teheran guna melakukan mediasi secara langsung.
Klaim Iran atas Serangan
Dalam pernyataannya, Kedubes Iran menyebut serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) menimbulkan korban sipil, termasuk anak-anak dan fasilitas pendidikan. Mereka juga menyatakan serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sejumlah pemimpin dunia turut merespons situasi ini. Presiden Rusia Vladimir Putin, misalnya, mengecam keras pembunuhan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak bermoral serta melanggar hukum internasional.
Riwayat Ketegangan Iran-AS
Kedubes Iran juga memaparkan riwayat panjang ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang disebut telah berlangsung selama tujuh dekade. Mereka menyinggung peristiwa kudeta 19 Agustus 1953 yang menggulingkan Perdana Menteri Iran saat itu, Mohammad Mossadegh.
Selain itu, Iran menuding AS memberikan dukungan penuh kepada Saddam Hussein dalam perang Iran-Irak pada 1980–1988. Kedubes juga mengungkit insiden penembakan pesawat penumpang Iran oleh kapal perang USS USS Vincennes pada Juli 1988 yang menewaskan seluruh 291 penumpang.
Pernyataan tersebut turut menyinggung pembunuhan seorang komandan militer senior Iran pada Januari 2020 atas perintah langsung Presiden AS saat itu, Donald Trump.
Iran juga menuding adanya dukungan AS terhadap berbagai serangan terhadap fasilitas militer dan nuklirnya dalam beberapa tahun terakhir, termasuk sanksi ekonomi yang disebut semakin memperberat kondisi rakyat Iran.
Harapan Mediasi
Di tengah meningkatnya ketegangan, Indonesia menegaskan komitmennya terhadap penyelesaian damai melalui dialog. Kesiapan Presiden Prabowo untuk menjadi mediator dinilai sebagai langkah diplomatik penting dari negara non-blok yang memiliki hubungan baik dengan berbagai pihak.
Upaya mediasi tersebut diharapkan dapat membuka kembali jalur diplomasi yang sempat terhenti dan mencegah eskalasi konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.
