AS Mulai Serang Iran, Trump Peringatkan Militer dan Warga Sipil

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 28 Februari 2026 | 17:51 WIB
Serangan terhadap Iran (SinPo.id/dok. AP News)
Serangan terhadap Iran (SinPo.id/dok. AP News)

SinPo.id - Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan dimulainya operasi militer berskala besar terhadap Republik Islam Iran, dengan alasan untuk menanggulangi apa yang disebut sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional Amerika, pasukan AS, instalasi militer luar negeri, dan sekutu Washington di seluruh dunia.

Dalam pidato yang disiarkan secara nasional, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan bahwa serangan itu ditujukan untuk “membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman langsung dari rezim Iran,” yang menurutnya telah puluhan tahun terlibat dalam kampanye kekerasan dan dukungan terhadap kelompok militan di berbagai negara.

"Beberapa waktu lalu, militer Amerika Serikat memulai operasi tempur besar-besaran di Iran. Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman langsung dari rezim Iran," ujar Trump, Sabtu, 28 Februari 2026.

Dalam pidatonya, Trump mengulas sejarah konflik antara Washington dan Teheran sejak 1979, termasuk pendudukan paksa Kedutaan Besar AS di Teheran yang menyebabkan 52 diplomat dan warga sipil Amerika disandera selama 444 hari. Ia juga menyebut keterlibatan proksi Iran dalam serangan terhadap barak Marinir AS di Beirut pada 1983 yang menewaskan 241 personel, serta dugaan peran Iran dalam serangan terhadap kapal USS Cole pada tahun 2000.

Trump juga menuduh milisi yang didukung Iran di Irak telah menewaskan dan melukai ratusan tentara Amerika dalam beberapa tahun terakhir, serta melancarkan serangan terhadap kapal militer dan sipil AS di perairan internasional.

"Ini adalah teror massal, dan kita tidak akan mentolerirnya lagi," ujarnya.

Ancaman Nuklir dan Rudal

Salah satu alasan utama yang dikemukakan untuk serangan ini adalah upaya Iran yang dianggap berkelanjutan untuk mengembangkan senjata nuklir dan rudal jarak jauh. Menurut pernyataan tersebut, pada bulan Juni dalam sebuah operasi yang dinamakan Midnight Hammer, fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan telah dihancurkan untuk “menghentikan ambisi nuklir rezim.”

Presiden AS juga menegaskan kembali komitmen pemerintahnya bahwa Iran “tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” dan bahwa operasi militer akan terus berlangsung untuk mencegah kemampuan tersebut berkembang.

"Bayangkan betapa beraninya rezim ini jika mereka pernah memiliki, dan benar-benar dipersenjatai dengan, senjata nuklir sebagai sarana untuk menyampaikan pesan mereka," papar Trump.

Serangan Terhadap Proksi dan Milisi

Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa Angkatan Bersenjata AS akan melumpuhkan kemampuan militer Iran, termasuk menghancurkan sistem rudal dan angkatan lautnya. Ia juga menuduh Iran mempersenjatai, melatih, dan mendanai kelompok militan di berbagai negara mulai dari Lebanon, Suriah, Irak, hingga Yaman.

Hamas juga disebut sebagai salah satu proksi Iran yang melakukan serangan besar terhadap Israel, dengan ratusan korban jiwa, termasuk warga Amerika, dalam serangan tanggal 7 Oktober.

Peringatan kepada Militer Iran dan Warga Sipil

Presiden AS memberikan ultimatum kepada anggota Pasdaran (Garda Revolusi Islam) dan angkatan bersenjata Iran untuk menyerah dan mendapatkan imunitas penuh, atau menghadapi “kematian yang pasti.” 

Sementara itu, rakyat Iran diperingatkan untuk tetap di rumah karena kemungkinan ledakan dan serangan udara di berbagai kota besar.

"Tetaplah berlindung. Jangan meninggalkan rumah Anda. Di luar sangat berbahaya. Bom akan berjatuhan di mana-mana," tegasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI