Trump Peringatkan Iran Soal Rudal, Kongres Khawatir AS Menuju Perang Baru
SinPo.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras bahwa Iran tengah mengembangkan rudal yang dapat mencapai wilayah AS. Dalam pidato State of the Union pada Selasa lalu, Trump juga menegaskan komitmennya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
“Tehran is working on missiles that will soon reach the US,” kata Trump, sembari menyebut Iran sebagai “number one sponsor of terrorism.”
Trump bahkan menyebut bahwa pergantian rezim di Iran akan menjadi “hal terbaik yang bisa terjadi.” Namun, laporan intelijen AS belum menyimpulkan bahwa Iran memiliki kemampuan membuat rudal antarbenua (ICBM) yang dapat menyerang langsung wilayah AS. Menurut Defense Intelligence Agency (DIA), Iran baru mungkin bisa mengembangkan ICBM yang layak secara militer pada 2035.
Untuk menekan Iran, Trump mengerahkan dua gugus kapal induk dengan sekitar 15.000 prajurit, ratusan pesawat, dan sejumlah kapal perang di kawasan. Sikap agresif ini membuat Kongres gelisah.
Wakil Presiden JD Vance menegaskan bahwa AS tidak akan terjebak dalam perang berkepanjangan di Timur Tengah. Namun, nada keras pemerintahan Trump, termasuk unggahan penasihat Dan Scavino yang menampilkan video pesawat B-2 siap lepas landas diiringi lagu Metallica, menimbulkan spekulasi bahwa opsi militer sudah dipersiapkan.
Di sisi lain, sejumlah anggota Kongres memperingatkan risiko besar jika Trump benar-benar melancarkan serangan.
“Trump is preparing to attack Iran and draft America into an Iraq War 2.0. What does he think he will achieve, and at what cost? So far, we have no idea,” tulis anggota DPR Demokrat Seth Moulton, veteran perang Irak.
Senat sempat meloloskan resolusi pembatasan kewenangan perang presiden, namun rancangan itu terhenti di DPR karena oposisi bipartisan. Situasi ini membuat Trump hampir tak terbendung jika memutuskan serangan.
Dengan ketegangan yang meningkat, pertemuan diplomatik di Jenewa antara utusan Trump dan negosiator Iran dari Oman menjadi krusial. Hasilnya akan menentukan apakah jalur diplomasi masih terbuka atau AS benar-benar menuju konfrontasi baru di Timur Tengah.
