Ngaku Diteror, Komisi III DPR Harap Ketua BEM UGM Lapor ke Polisi

Laporan: Juven Martua Sitompul
Sabtu, 21 Februari 2026 | 19:54 WIB
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman (SinPo.id/ Galuh Ratnatika)
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman (SinPo.id/ Galuh Ratnatika)

SinPo.id - Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman berharap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto membuat laporan resmi ke polisi usai mengaku mendapatkan teror. Laporan polisi dinilai jalan tepat agar aparat bisa menangkap pelaku.

"Terkait informasi adanya teror terhadap Ketua BEM UGM kami berharap yang bersangkutan membuat laporan polisi, dan selanjutnya bisa ditindak oleh aparat," kata Habiburokhman kepada wartawan, Jakarta, Sabtu, 21 Februari 2026.

Habiburokhman menilai teror yang dialami Tiyo bukan berasal di pihak pendukung Presiden Prabowo Subianto. Dia mengungkapkan pihak pendukung Prabowo juga mengalami hal yang sama dengan Tiyo.

"Kami pastikan pelaku teror bukan dari pendukung Pak Prabowo. Sebaliknya kami perlu informasikan bahwa saat ini ada beberapa pendukung Pak Prabowo juga mendapat ancaman teror. Saya juga meminta rekan-rekan tersebut juga membuat laporan polisi," ujarnya.

Waketum Partai Gerindra itu menilai ada pihak lain yang berupaya memecah belah masyarakat. Situasi yang tak kondusif dinilai dapat menjadi pintu masuk perpecahan.

"Waspada ada pihak ketiga yang mau mengadu domba bangsa kita. Situasi saat ini bisa saja ada pihak yang ingin memancing di air keruh," ucapnya.

Sebelumnya, Tiyo mengatakan terror tersebut terjadi sejak 9 Februari 2026. Dia mengaku mendapatkan berbagai pesan dari beberapa nomor luar negeri berisi ancaman pembunuhan hingga akan membuka aib.

"Teror itu sejak Selasa, 9 Februari. Ada sekitar 6 nomor asing (dari luar negeri). Itu isinya ada ancaman penculikan, ada ancaman untuk katanya membuka aib," kata Tiyo.

Tak hanya itu, Tiyo mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu, 11 Februari 2026. Penguntitan terhadap Tiyo dilakukan oleh orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai. Meksi saat itu sempat dikejar, namun para penguntit itu bisa pergi.

"Ada juga pengalaman sempat dikuntit. Jadi saya sedang di sebuah kedai, dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto. Tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita enggak baik-baik saja," ujarnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI