Militer AS Siapkan Opsi Serangan ke Iran

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 21 Februari 2026 | 06:05 WIB
Rudal (pixabay)
Rudal (pixabay)

SinPo.id -  Militer Amerika Serikat dilaporkan telah mencapai tahap perencanaan lanjutan terkait kemungkinan operasi terhadap Iran, termasuk opsi menargetkan individu tertentu hingga skenario mendorong perubahan rezim di Teheran, jika diperintahkan oleh Presiden Donald Trump.

Laporan tersebut pertama kali diungkap oleh Reuters pada Jumat, mengutip dua pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim. Kedua pejabat itu tidak merinci siapa saja yang bisa menjadi target maupun bagaimana perubahan rezim dapat dilakukan tanpa pengerahan besar pasukan darat.

Salah satu pejabat menyebut pendekatan penargetan individu dinilai efektif, merujuk pada konflik 12 hari serta serangan Israel terhadap target-target tertentu. Fokus disebut diarahkan pada pihak-pihak yang terlibat dalam komando dan kendali pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Namun, ia menegaskan bahwa strategi tersebut membutuhkan dukungan intelijen tambahan yang signifikan.

Di sisi lain, Trump mengakui tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas terhadap Iran. “Saya bisa katakan bahwa saya sedang mempertimbangkannya,” ujarnya kepada wartawan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah laporan bahwa Washington menuntut penghentian total pengayaan uranium sebagai prasyarat kesepakatan nuklir. Dalam wawancara dengan MSNBC, Araghchi menyebut putaran terbaru perundingan tidak langsung di Jenewa berlangsung konstruktif. Ia mengatakan kedua pihak telah menyepakati prinsip-prinsip umum untuk potensi kesepakatan, dengan langkah teknis difokuskan untuk memastikan program nuklir tetap bersifat damai.

Sebelumnya, IRGC memperingatkan akan membalas jika wilayah Iran diserang. Amerika Serikat memiliki sejumlah pangkalan militer di kawasan Timur Tengah, termasuk di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Turki.

Pada 19 Februari lalu, Trump memperingatkan bahwa Iran memiliki waktu maksimal 15 hari untuk mencapai “kesepakatan yang bermakna” atau menghadapi konsekuensi serius. Perundingan yang dimediasi Oman telah dimulai kembali awal bulan ini, dengan putaran pertama digelar di Muscat pada 6 Februari dan putaran kedua berlangsung pada 17 Februari di kediaman duta besar Oman di Jenewa.

Perkembangan ini menandai meningkatnya ketegangan di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI