Jelang Lebaran, Kementerian PU Kebut Pembangunan 1.301 Rumah Hunian di Sumatra

Laporan: Tio Pirnando
Kamis, 19 Februari 2026 | 20:37 WIB
Ilustrasi rumah hunian bagi korban bencana di Sumatra (SinPo.id/ Dok. KemenPU)
Ilustrasi rumah hunian bagi korban bencana di Sumatra (SinPo.id/ Dok. KemenPU)

SinPo.id - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) meningkatkan intensitas pembangunan 1.301 unit rumah hunian bagi masyarakat terdampak bencana di Sumatra agar sudah bisa ditempati saat Lebaran 2026. Percepatan dilakukan untuk memastikan masyarakat kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak. 

"Hunian ini bukan sekadar bangunan, tetapi bagian dari pemulihan kehidupan masyarakat. Arahan Bapak Presiden jelas, kita harus memastikan masyarakat kembali merasa aman dan nyaman," kata Menteri PU Dody Hanggodo, dalam keterangannya, Kamis, 19 Februari 2026. 

Dody menerangkan, hingga  9 Februari 2026, progres rata-rata pembangunan hunian telah mencapai 47 persen dan terus dikebut agar rampung paling lambat 28 Februari.

Dari total 1.301 unit hunian yang dibangun oleh Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PU, sebanyak 1.056 unit berada di Aceh dan 245 unit di Sumatra Utara.

Di Aceh, pembangunan menunjukkan progress yang signifikan di sejumlah wilayah. Kabupaten Aceh Tamiang Tahap I sebanyak 84 unit telah mencapai 100 persen, sementara Tahap II sebanyak 156 unit mencapai 83,72 persen. Di Kabupaten Bener Meriah, pembangunan 228 unit telah mencapai 55,7 persen, dan di Kabupaten Aceh Utara sebanyak 360 unit berada pada progres 48,1 persen. 

Selanjutnya di Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 168 unit dalam progres 19,15 persen, dan di Kota Subulussalam sebanyak 60 unit dengan progres 4,91 persen. 

Sementara di Sumatra Utara, pembangunan difokuskan di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan sebanyak 245 unit yang tersebar dalam 21 blok. Progres pembangunannya telah mencapai 28,6 persen dan terus dipercepat. 

Percepatan di lapangan dilakukan dengan menyiasati kondisi cuaca yang tidak menentu. Pekerjaan struktur dan eksterior dilaksanakan hingga malam hari saat cuaca mendukung, sementara pekerjaan interior tetap berjalan meskipun terjadi hujan, sehingga produktivitas konstruksi tetap terjaga. 

Dalam pembangunan hunian tersebut, Kementerian PU menggunakan metode konstruksi modular dengan sistem Modular Lite (MOLI). Teknologi ini memungkinkan pembangunan tanpa alat berat, fleksibel diterapkan di lokasi terdampak bencana dengan akses terbatas, serta mempercepat proses pemasangan tanpa mengurangi Sistem ini juga mempercepat proses pemasangan, meminimalkan limbah konstruksi, dan lebih efisien dalam pelaksanaan.

Rumah hunian dirancang dengan konstruksi yang durable dan tahan gempa, serta dapat dipasang dan dibongkar tanpa menghasilkan limbah konstruksi. Dengan pendekatan tersebut, Kementerian PU optimis seluruh hunian dapat segera diserahterimakan sehingga masyarakat terdampak dapat kembali.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI