Ketua DPR Sebut Dinamika Global 2026 Tuntut Diplomasi Lebih Efektif
SinPo.id - Ketua DPR RI Puan Maharani menilai dinamika global yang terjadi pada awal 2026 ini menuntut pemerintah Indonesia agar melakukan diplomasi yang lebih efektif serta berorientasi pada solusi perdamaian.
Menurut dia, awal 2026 ditandai dengan meningkatnya ketegangan dalam hubungan internasional, baik dalam bentuk konflik bersenjata maupun eskalasi perang dagang yang mengganggu rantai pasok dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
"Dalam dunia yang saling bergantung, tidak ada bangsa yang dapat berdiri dan aman sendirian, stabilitas global hanya dapat dicapai melalui kerja sama," kata Puan dalam pidatonya di Rapat Paripurna Penutupan Masa Persidangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis, 19 Februari 2026.
Dia mengatakan, tidak ada negara yang dapat maju tanpa kerja sama antar negara. Puan menilai tatanan kerja sama internasional hari ini dibangun di atas norma dan komitmen bersama mulai dari standar ekonomi yang mengukur daya saing dan keberlanjutan, nilai-nilai sosial yang menjunjung martabat manusia, hingga prinsip demokrasi dan hak asasi manusia sebagai fondasi politik yang berkeadaban.
Dalam konteks itu, kata dia, pembangunan tidak semata diukur dari pertumbuhan angka, tetapi dari kualitas kehidupan manusia dan keadilan sosial yang dirasakan rakyat.
"Karena kita hidup dalam dunia yang saling bergantung, Indonesia harus memperkuat daya tahan dan daya saing nasional agar memiliki posisi tawar yang baik dalam tatanan global," katanya.
Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) ini menyatakan DPR melalui fungsi konstitusional telah merespons berbagai hal penting dan strategis yang berkaitan dengan integritas pengelolaan perekonomian nasional, kebutuhan reformasi hukum nasional, penguatan perlindungan sosial di bidang kesehatan, serta pelaksanaan politik luar negeri yang tetap berada pada jalan politik bebas aktif.
"Situasi dan kondisi dunia saat ini ditandai oleh keterbukaan, interkoneksi, dan arus globalisasi yang semakin intens. Negara-negara tidak lagi berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam jejaring ekonomi, sosial, politik, dan budaya," kata dia.
