Mentan: Keberhasilan Hilirisasi Bergantung pada Keberanian Generasi Pengusaha Muda

Laporan: Galuh Ratnatika
Senin, 16 Februari 2026 | 21:20 WIB
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman. (SinPo.id/dok. Bapanas)
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman. (SinPo.id/dok. Bapanas)

SinPo.id -  Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, menekankan keberhasilan hilirisasi sektor pertaniam dan transformasi ekonomi sangat bergantung pada keberanian generasi pengusaha muda.

Sehingga, pihaknya mengajak Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) untuk mempercepat hilirisasi sektor pertanian sebagai strategi membawa Indonesia menjadi pemain utama dalam ekonomi global. 

“HIPMI, Anda yang menentukan republik ini lima, sepuluh, lima belas tahun ke depan. Perputaran ekonomi republik ini ada di pengusaha,” kata Amran, dalam keterangan persnya, dikutip Senin, 16 Februari 2026.

Menurutnya, organisasi atau individu yang bekerja biasa-biasa saja namun mengharapkan hasil luar biasa, tidak akan pernah mencapai lompatan besar.
 
“Hari ini kita sudah doa paling tinggi. Sekarang saatnya bertindak paling tinggi. Doa, mimpi besar, tindakan besar, dan konsisten, itu kunci keberhasilan,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Kementan membuka peluang konkret bagi pelaku usaha muda, mulai dari cetak sawah baru, pengembangan kakao hampir satu juta hektare dengan dukungan anggaran Rp10 triliun, hingga pembangunan pabrik kelapa senilai Rp1,5 triliun per unit melalui skema kolaborasi pembiayaan.

“Kalau tiga komoditas saja kita hilirisasi serius, kelapa, gambir, dan CPO, itu bisa 15.000 sampai 20.000 triliun. Itu setara tujuh tahun APBN. Ini bukan mimpi. Ini soal kita mau atau tidak,” ungkapnya.

Ia pun mengungkapkan Indonesia menjadi nomor satu kelapa terbesar dunia. Harga kelapa Rp1.350, dan menurutnya jika dilakukan hilirisasi jadi coconut milk, coconut water, dan turunannya, nilainya bisa naik 100 kali lipat.

Selain itu, pihaknya juga menyoroti gambir yang 80 persen bahan bakunya dikuasai Indonesia, namun pengolahannya masih dilakukan di luar negeri.

Sementara pada komoditas CPO, kata Amran, Indonesia menguasai 60–70 persen pasar dunia. Namun dengan strategi penguatan biofuel dan pengurangan impor solar, nilai tambahnya dinilai bisa melonjak signifikan.

“Kalau harga CPO rendah kita serap jadi biofuel dalam negeri, kalau tinggi kita ekspor. Kita bisa mainkan dunia. Sekarang nilainya Rp549 triliun, bisa jadi Rp1.500 triliun, bahkan Rp5.000 triliun kalau hilirisasi penuh,” katanya menambahkan.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI