Tewasnya Pemimpin Oposisi Rusia di Penjara Diklaim Akibat Racun Katak Panah Ekuador
SinPo.id - Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny meninggal di penjara di Rusia setelah diracuni dengan racun mematikan yang ditemukan di kulit katak panah Ekuador, pada 2024 lalu.
Temuan tersebut diumumkan oleh tokoh oposisi Rusia sekaligus istri Navalny, Yulia Navalnaya, dalam konferensi pers di Munich, yang didampingi oleh menteri luar negeri Inggris, Jerman, Swedia, dan Belanda.
"Tindakan barbar tersebut - menggunakan neurotoksin yang digolongkan sebagai senjata kimia - hanya dapat dilakukan oleh pemerintah Vladimir Putin," kata Inggris, dalam sebuah pernyataan, dilansir dari Sky News, Minggu, 15 Februari 2026.
Keempat negara, termasuk Perancis berencana untuk menyerahkan temuan mereka kepada badan pengawas senjata kimia internasional, Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).
Tidak diketahui bangaimana racun epibatidine tersebut diberikan kepada Navalny yang ditahan di penjara Siberia. Namun kemungkinan racun tersebut diproduksi di laboratorium dan bukan diambil langsung dari katak.
Adapun racun itu merupakan salah satu yang paling mematikan di bumi dan 200 kali lebih kuat daripada morfin. Hal itu menyebabkan kelumpuhan, kesulitan bernapas, dan kematian.
Racun tersebut juga biasa digunakan oleh suku-suku asli di Amerika Selatan dalam anak panah atau sumpit ketika mereka berburu.
