Militer AS Siapkan Operasi Berkelanjutan terhadap Iran jika Trump Perintahkan Serangan

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 15 Februari 2026 | 06:50 WIB
Presiden Amerika Serika Donald Trump. (SinPo.id/AP)
Presiden Amerika Serika Donald Trump. (SinPo.id/AP)

SinPo.id -  Militer Amerika Serikat tengah mempersiapkan kemungkinan operasi berkelanjutan selama berminggu-minggu terhadap Iran jika Presiden Donald Trump memerintahkan serangan, menurut dua pejabat AS yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim.

Pengungkapan ini meningkatkan tensi diplomasi yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran. Delegasi AS yang dipimpin Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu dengan perwakilan Iran di Jenewa pada Selasa, dengan Oman bertindak sebagai mediator. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa meski Trump lebih memilih kesepakatan, “itu sangat sulit dilakukan.”

Sementara itu, Trump telah mengerahkan kekuatan militer tambahan ke kawasan Timur Tengah. Pentagon mengirim kapal induk tambahan, ribuan pasukan, pesawat tempur, kapal perusak misil, dan persenjataan lain yang mampu melancarkan serangan maupun bertahan dari serangan balasan.

Berbicara di hadapan pasukan AS di North Carolina, Trump bahkan membuka kemungkinan perubahan rezim di Iran. “Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi,” ujarnya, meski tidak menyebut siapa yang akan menggantikan pemerintahan Iran.

Trump sebelumnya menegaskan skeptis terhadap pengerahan pasukan darat ke Iran. “Hal terakhir yang Anda inginkan adalah pasukan darat,” katanya tahun lalu. Namun, opsi serangan udara dan laut kini terlihat dominan, dengan kemungkinan operasi khusus seperti yang dilakukan di Venezuela bulan lalu.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan, “Presiden Trump memiliki semua opsi di meja terkait Iran. Ia mendengarkan berbagai perspektif, tetapi keputusan akhir dibuat berdasarkan apa yang terbaik bagi negara dan keamanan nasional.” Pentagon menolak berkomentar.

Pejabat AS menyebut operasi kali ini lebih kompleks dibanding serangan “Midnight Hammer” pada Juni lalu yang hanya berupa serangan sekali jalan terhadap fasilitas nuklir Iran. Dalam skenario berkelanjutan, target bisa mencakup fasilitas negara dan keamanan Iran, bukan hanya infrastruktur nuklir.

Para ahli memperingatkan risiko besar bagi pasukan AS, mengingat Iran memiliki arsenal misil yang kuat. Retaliasi Iran juga berpotensi memicu konflik regional. Garda Revolusi Iran sebelumnya mengancam akan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah jika wilayah Iran diserang.

Trump menegaskan, jika diplomasi gagal, alternatifnya akan “sangat traumatis, sangat traumatis.”

BERITALAINNYA
BERITATERKINI