Diskusi WTI 2025: Dinamika dan Tantangan Terorisme Terkini

Laporan: Tim Redaksi
Kamis, 12 Februari 2026 | 07:17 WIB
Program Studi Kajian Terorisme SPPB UI menggelar acara bertajuk 'World Terrorism Index: Peluncuran dan Diskusi WTI 2025'. (SinPo.id/Istimewa)
Program Studi Kajian Terorisme SPPB UI menggelar acara bertajuk 'World Terrorism Index: Peluncuran dan Diskusi WTI 2025'. (SinPo.id/Istimewa)

SinPo.id - Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia (UI) menggelar acara bertajuk 'World Terrorism Index: Peluncuran dan Diskusi WTI 2025' di Gedung IASTH UI Lantai 5, Kampus Salemba pada Rabu, 11 Februari 2026.

Forum strategis ini mempertemukan akademisi, aparat penegak hukum, dan pembuat kebijakan untuk membedah peta terbaru ancaman terorisme global serta implikasinya bagi Indonesia.

Acara dibuka dengan sambutan Wakil Direktur Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Kerja Sama SPPB UI Maureen Pomsar Lumban Toruan yang mewakili Direktur SPPB UI. Dalam sambutannya, SPPB UI menegaskan komitmen universitas sebagai jembatan antara riset akademik dan kebijakan praktis dalam mendukung penanganan terorisme di Indonesia.

Keynote speech disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang diwakili Brigjen Mochamad Rosidi. Ia mengapresiasi kehadiran WTI 2025 sebagai instrumen penting untuk membaca tren global.

BNPT menekankan pentingnya data berbasis riset guna mempertajam Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE), agar kebijakan negara tetap relevan di tengah dinamika ancaman yang terus berubah.

Memasuki sesi utama, peneliti WTI Muhamad Syauqillah dan Adhiascha Soemitro memaparkan temuan 2025. Indonesia pada 2024 berada di peringkat 51 dengan skor 18 dan masuk kategori low impact. Pada 2025, Indonesia masih berada dalam kategori low impact dengan perbaikan skor menjadi 15.

Tim peneliti menjelaskan bahwa perbaikan skor tersebut dipengaruhi oleh penurunan jumlah operasi penangkapan sebelum aksi teror, yang secara langsung menurunkan skor total berdasarkan bobot penilaian indeks. Meski demikian, peringkat Indonesia bergeser dari posisi 51 pada 2024 menjadi 45 pada 2025.

Kenaikan peringkat ini terjadi karena sejumlah negara lain mengalami perbaikan skor yang lebih signifikan atau kondisi keamanannya relatif stabil, sehingga memengaruhi posisi relatif Indonesia dalam pemetaan global.

Laporan WTI 2025 juga menyoroti sejumlah tren utama. Salah satunya adalah meningkatnya kerentanan anak muda dan remaja terhadap radikalisasi di era digital.

"Kami menemukan peningkatan dalam radikalisasi dan rekrutmen anak muda melalui platform digital. Kelompok ekstremis kini memanfaatkan media sosial, pesan terenkripsi, hingga fitur percakapan dalam gim daring (online games) untuk menyebarkan propaganda. Metode ini mempercepat proses radikalisasi karena berlangsung efektif, cepat, dan sulit terdeteksi oleh pengawasan konvensional," ungkap tim peneliti.

Selain itu, laporan menyoroti eskalasi serangan di sejumlah negara kawasan Afrika. Temuan lain adalah pengkategorian geng, kartel, dan kelompok kejahatan terorganisir sebagai organisasi teror. Di satu sisi, langkah ini dinilai dapat memperkuat dasar hukum dalam merespons ancaman, namun di sisi lain berpotensi disalahgunakan untuk menekan lawan politik.

Isu kebangkitan kelompok sayap kiri juga menjadi sorotan, dengan profil ideologi pelaku serangan pada 2025 didominasi etnonasionalisme atau separatisme, ideologi keagamaan, motif ekonomi, pelaku yang belum teridentifikasi, serta ideologi kiri.

Dari sisi yudikatif, Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung RI Prim Haryadi memaparkan materi bertajuk 'Perkembangan Putusan Pengadilan dalam Perkara TP Terorisme dan TP Terorisme Pasca Berlakunya KUHP 2023 dan KUHAP 2025'.

Ia membahas tantangan harmonisasi hukum pasca pemberlakuan regulasi pidana baru, dengan fokus pada konsistensi putusan hakim serta kepastian hukum bagi terdakwa dan korban.

Sementara itu, Kepala Densus 88 AT Polri yang diwakili Kombes Mayndra Eka Wardhana menegaskan bahwa intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme masih menjadi tantangan nyata bagi keamanan Indonesia. Ia menyebut tahun 2025 sebagai titik balik migrasi besar pola rekrutmen dan aktivitas terorisme dari dunia nyata ke dunia maya.

Mayndra menjelaskan, tren rekrutmen terhadap anak dan pelajar meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga memerlukan kewaspadaan ekstra dari seluruh elemen masyarakat. Indonesia dinilai memiliki karakter kebijakan kontra-teror yang adaptif dan dinamis, yang terbukti efektif mengendalikan situasi.

Hal ini ditunjukkan dengan capaian Zero Attack atau nihil serangan teror selama tiga tahun berturut-turut. Meski demikian, Densus 88 tetap aktif melakukan penegakan hukum di sejumlah wilayah sebagai langkah preventive strike guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan menekankan pentingnya membaca WTI 2025 sebagai sinyal kebijakan, bukan sekadar angka peringkat. Ia mengajak publik dan pemangku kepentingan memahami indikator yang diukur, tren pergerakannya, serta keterbatasannya agar diskusi berfokus pada mitigasi risiko berbasis bukti.

Diskusi ditutup dengan analisis Ketua Program Studi Kajian Terorisme SPPB UI Zora A. Sukabdi mengenai kerentanan psikologis anak terhadap paparan ideologi radikal-ekstrem.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan kognitif dan emosi yang belum matang membuat anak-anak rentan terhadap narasi ekstremis, terutama ketika pengawasan orang tua di ruang digital minim.

Peluncuran WTI 2025 menyimpulkan bahwa meski serangan fisik menurun, ancaman terorisme kini berevolusi menjadi perang narasi di ruang digital yang menyasar generasi muda.

Sinergi lintas sektor, mulai dari akademisi, pemerintah, aparat hukum, hingga keluarga, dinilai menjadi kunci untuk memutus rantai radikalisasi di masa depan.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI