Olimpiade di Tengah Polarisasi
SinPo.id - Gelaran Olimpiade Musim Dingin 2026 menjadi panggung kontradiksi bagi kontingen Amerika Serikat. Di saat para atlet berjuang membawa pulang medali, ketegangan politik di Washington D.C. membayangi fokus mereka, memicu perang komentar antara atlet nasional dan mantan Presiden Donald Trump.
Suara Atlet: Antara Kebanggaan dan Kritik
Ketegangan bermula saat atlet freestyle skiing AS, Hunter Hess (27), mengungkapkan perasaan campur aduknya mewakili negaranya. "Hanya karena saya mengenakan bendera, bukan berarti saya mewakili semua yang terjadi di AS saat ini," ujar Hess dalam konferensi pers.
Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dari Donald Trump di platform Truth Social. Trump menyebut Hess sebagai "pecundang sejati" (real loser) dan menyayangkan keberadaannya di tim nasional. Hess kemudian membalas melalui Instagram dengan menegaskan bahwa kebebasan untuk mengkritik adalah hal yang justru membuat Amerika hebat.
Rekan setimnya, Chris Lillis dan sang legenda snowboard Chloe Kim, turut bersuara. Kim, yang merupakan anak dari imigran, menekankan pentingnya persatuan.
"AS telah memberi keluarga saya begitu banyak peluang, tetapi saya juga berpikir kita diperbolehkan menyuarakan pendapat tentang apa yang sedang terjadi. Kita perlu memimpin dengan cinta dan kasih sayang," ujar Kim menanggapi komentar Trump.
Kontroversi Baru: Kesaksian Lama Trump Soal Jeffrey Epstein
Di tengah perdebatan soal patriotisme atlet, perhatian publik juga tersedot pada dokumen kasus Jeffrey Epstein yang baru dirilis. Laporan dari Miami Herald mengungkapkan klaim mantan Kepala Polisi Palm Beach, Michael Reiter, dalam wawancara FBI tahun 2019.
Reiter mengklaim bahwa pada tahun 2006, Trump pernah mendukung langkah kepolisian untuk menghentikan Epstein. "Syukurlah Anda menghentikannya, semua orang tahu dia telah melakukan ini," ujar Trump menurut kesaksian Reiter. Hal ini menjadi sorotan karena selama ini Trump berulang kali mengklaim tidak mengetahui kejahatan seksual yang dilakukan Epstein. Namun, pihak FBI menyatakan tidak memiliki bukti penguat mengenai kontak langsung Trump dengan aparat hukum 20 tahun lalu tersebut.
Demokrat Bidik Kesaksian Trump dan Keluarga Clinton
Eskalasi penyelidikan Epstein di Capitol Hill juga memasuki babak baru yang krusial:
Pemanggilan Keluarga Clinton: Komite Pengawasan DPR RI dipastikan akan mengambil deposisi dari Hillary Clinton pada 26 Februari dan Bill Clinton pada 27 Februari 2026, setelah sebelumnya sempat ada ancaman terkait penghinaan terhadap Kongres (contempt of Congress).
Target Berikutnya: Perwakilan Demokrat, Robert Garcia, menyatakan bahwa partainya akan berusaha memanggil Donald Trump untuk diwawancarai jika Demokrat berhasil merebut kendali DPR pada pemilu sela mendatang.
"DOJ mengira penyelidikan ini sudah selesai. Kami pikir ini baru saja dimulai," tegas Garcia, merujuk pada ketidakpuasan parlemen terhadap keterbukaan dokumen yang diberikan Departemen Kehakiman.
